Pendapat Eks Pimpinan KPK Soal Dendam Pelaku Penyiraman Novel Baswedan

Pelayananpublik.id- Setelah dua tahun lamanya menunggu, kini masyarakat dikejutkan dengan kabar tertangkapnya pelaku penyerangan Novel Baswedan.

Dua pelaku yang tertangkap itu merupakan anggota Polri.

Bahkan saat ditangkap salahsatu pelaku terang-terangan berteriak ke media kalau dia punya dendam terhadap penyidik senior KPK tersebut.

Alih-alih senang, publik justru mempertanyakan penangkapan itu. Sebagian kalangan mengutarakan perasaan janggal dan merasa motif dendam pribadi sama sekali tak masuk akal sebagai akhir dari kasus ini.

Demikian juga pendapat mantan pimpinan KPK, Busyro Muqodas.

“Jadi sama sekali tidak logis ini karena sentimen pribadi dari siapa pun juga yang mengaku-ngaku. Kalau itu sentimen pribadi,┬ákenapa┬ábaru sekarang orang itu baru melakukan pengakuan,” kata Busyro di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Senin (30/12).

Menurut dia, kalau hanya persoalan sentimen pribadi jadi penyebabnya tidak masuk akal. Sebab dari dulu percobaan penyerangan terhadap Novel sendiri sudah beberapa kali dilakukan selain penyiraman air keras. Percobaan penyerangan tersebut, katanya, dikarenakan peran Novel dalam membongkar kasus-kasus besar.

Menurutnya, sudah ada enam hingga tujuh percobaan penyerangan yang dilakukan terhadap Novel.

Bahkan, penyerangan juga dilakukan kepada penyidik lain yang memiliki wajah mirip dengan Novel. Contohnya penyidik yang ditabrak mobil besar hingga kakinya patah.

“Penyidik itu mengatakan, ini yang ditarget bukanlah saya, tapi Novel. (Penyidik yang merupakan) Polisi aktif saat itu yang kena sasaran, ditabrak mobil besar dan kakinya patah berat,” kata Busyro.

Selain itu, penyerangan ini kata dia dilakukan dengan cara yang sistematis. Sebab, penyerangan ini bukan indikasi sentimen pribadi melainkan teror terhadap lembaga KPK.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta masyarakat mengawal pengungkapan kasus teror penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Presiden pun meminta masyarakat memberi kesempatan kepada polisi untuk membuktikan fakta-fakta di balik penangkapan dua pelaku penyiraman air keras, yakni RM dan RB, pada Kamis (26/12) malam.

“Jangan sebelum ketemu, ribut. Setelah ketemu, ribut. Berikanlah polisi kesempatan untuk membuktikan bahwa itu benar-benar pelaku, motifnya apa, semuanya. Jangan ada spekulasi-spekulasi terlebih dahulu. Oh, baru ditangkap kemarin, katanya.

Sumber: Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published.