Bebas di Kasus Solar Subsidi, AKBP Achiruddin Hadapi Kasus Gratifikasi

Pelayananpublik.id- Ajun Komisaris Besar Achiruddin Hasibuan divonis bebas pada kasus perniagaan solar bersubsidi. Pengadilan Negeri Medan memutuskan Achiruddin tidak terbukti terlibat dalam tidak pidana tersebut.

Namun saat ini AKBP Achiruddin dihadapkan pada kasus gratifikasi dan pencucian uang.

Kepolisian Daerah Sumatera Utara telah menyerahkan berkas perkaranya ke Kejaksaan Tinggi Sumut. Achiruddin disangka menerima gratifikasi dengan barang bukti mobil Rubicon, Pajero, dan uang Rp 53 juta.

hari jadi pelayanan publik

”Kasus gratifikasi dan pencucian uang tetap kami proses. Berkas perkaranya sudah kami serahkan ke kejaksaan,” kata Kepala Bidang Humas Polda Sumut Komisaris Besar Hadi Wahyudi, dikutip dari Kompas.com, Selasa (31/10/2023).

Kasus gratifikasi dan tindak pidana pencucian uang tersebut tetap dilanjutkan meskipun Achiruddin dinyatakan tidak terbukti bersalah dalam tindak pidana pengangkutan dan perniagaan solar bersubsidi oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan.

Kasus gratifikasi dan pencucian uang itu diselidiki oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumut. Achiruddin disangka menerima gratifikasi dari PT Almira Nusa Raya berupa uang dari hasil tindak pidana pengangkutan dan perniagaan solar bersubsidi yang dilakukan oleh PT Almira. Polda Sumut menyita uang Rp 53 juta dari rekening bank Achiruddin dan dua unit mobil yang diduga hasil dari gratifikasi.

Terkait hal itu, pengacara Achiruddin, Joko P Situmeang, mengatakan, Polda Sumut harusnya menghentikan kasus gratifikasi dan pencucian uang setelah tindak pidana asal, yakni pengangkutan dan perniagaan solar bersubsidi dinyatakan tidak terbukti di Pengadilan Negeri Medan.

”Kalau tetap dilanjutkan, ini akan terlihat seperti kasus yang dipaksakan,” kata Joko.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan yang diketuai Oloan Silalahi pada Senin (30/10/2023) menyebut mobil boks milik Achiruddin terbukti mengangkut ribuan liter solar bersubsidi setiap hari. Mobil milik Achiruddin itu telah dimodifikasi sehingga mempunyai tangki minyak tambahan berkapasitas 1.000 liter di dalam boks.

Mobil itu dikemudikan atau dioperasikan oleh seseorang bernama Jupang. Namun, terdakwa Achiruddin disebut tidak terbukti memerintahkan Jupang mengangkut BBM bersubsidi. Achiruddin hanya memerintahkan Jupang mengangkut minyak konden (kondensat) atau minyak suling dari Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat.

”Tentang isi perintah hanya diketahui Achiruddin dengan Jupang. Sementara Jupang tidak pernah diperiksa sebagai saksi atau terdakwa dan tidak pernah dihadirkan di persidangan,” kata Oloan.

Sebelumnya diketahui, Kasus perniagaan solar diselidiki Polda Sumut saat menggeledah rumah Achiruddin dalam kasus penganiayaan yang dilakukan Achiruddin dan anaknya, Aditya Hasibuan, pada April lalu. Kasus itu diselidiki setelah video penganiayaan tersebar di media sosial. Polisi menjadikan Achiruddin, Edy, dan Parlin sebagai tersangka perniagaan solar bersubsidi setelah menemukan gudang solar di dekat rumah Achiruddin.

Sementara dalam kasus penganiayaan tersebut, Achiruddin dijatuhi vonis 6 bulan penjara. Sementara, anaknya dijatuhi vonis 1,5 tahun penjara di Pengadilan Negeri Medan dan dikurangi menjadi 1 tahun pada tingkat banding di Pengadilan Tinggi Medan. (*)