Toxic dan Merugikan Orang Lain, Ini Pengertian dan Ciri Princess Syndrome

Pelayananpublik.id- Sosok gadis dalam pusaran kasus penganiayaan yang dilakukan Mario Dandy tak luput jadi sorotan publik.

Bahkan perilakunya yang diduga berperan menyuruh kekasihnya memukuli korban disebut-sebut sebagai Princess Syndrom.

Istilah ini mulai ramai setelah diunggah oleh salah seorang pengguna Twitter. Unggahan itu menyebutkan bahwa princess syndrome merupakan gambaran remaja perempuan yang memanipulasi pacarnya untuk memukuli mantan kekasihnya.

hari jadi pelayanan publik

Lalu apa itu princess syndrome? Berikut ini merupakan penjelasan apa itu princess syndrome beserta cirinya.

Melansir Psychology Today, princess syndrome atau dengan nama lain princess sickness atau Cinderella Complex adalah kecenderungan perilaku seorang remaja perempuan yang menjalani kehidupannya bagaikan dongeng.

Perempuan dengan sindrom ini hanya berfokus pada hal-hal yang indah, menempatkan dirinya di pusat alam semesta, dan terobsesi dengan penampilannya.

Meski tak menjadi istilah medis yang resmi, namun banyak remaja perempuan yang mengalami hal tersebut.

Princess syndrome mungkin tidak dianggap sebagai hal yang serius ketika dialami anak perempuan. Namun, kondisi ini bisa menjadi masalah ketika sang anak beranjak dewasa.

Pasalnya, kondisi ini akan berpengaruh pada harga dirinya, ketergantungannya pada orang lain, bagaimana dia menjaga dirinya sendiri, dan seberapa berdaya dirinya.

Di sisi lain, istilah princess sickness juga dikenal sebagai istilah yang digunakan dalam bahasa sehari-hari di Asia Timur dan Tenggara. Istilah ini menggambarkan kondisi narsisme dan materialisme pada perempuan atau sindrom yang membuat seorang perempuan merasa seperti seorang putri secara berlebih.

Misalnya saja ingin didengarkan, ingin dipuja, merasa penting dan cantik.

Sementara itu, psikolog klinis dari CalSouthern University, AS, Nancy Irwin menyatakan, beberapa orang tua kadang mengembangkan princess syndrome pada anak perempuannya tanpa disengaja.

“Princess syndrome adalah sikap yang ditanamkan oleh orang tua pada anak perempuan,” tulisnya dalam sebuah artikel di situs web pribadinya.

Sindrom ini, kata dia, membuat seorang perempuan terbiasa memiliki relasi yang tidak sehat, harga diri yang bergantung pada penampilan dan pembawaan mereka, hak, narsisme, serta memiliki ekspektasi yang tidak realistis.

Remaja perempuan yang menderita princess syndrome merasa bahwa mereka pantas mendapatkan perlakuan bak tuan putri.

Princess syndrome juga bisa memberikan pengaruh negatif pada hubungan pribadi. Pasalnya, mereka akan merasa layak mendapatkan lebih banyak atau sesuatu yang lebih baik.

Gejala dan Ciri Princess Syndrome

‘Pengidap’ princess syndrome biasanya tumbuh menjadi sosok yang dangkal, tidak mampu berbagi, dan berkompromi. Mereka juga mungkin mengabaikan perasaan atau keterampilan orang lain.

Tak cuma itu, mereka juga mungkin akan sering mengeluh, merengek, dan merasa bimbang karena hal-hal di sekitarnya dinilai belum sempurna.

Dengan kata lain, tak ada hal apa pun yang bisa membuat mereka senang, karena mereka tak pernah belajar untuk menyenangkan diri sendiri.

Irwin menjelaskan, salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah saat seorang anak atau remaja perempuan sering merengek. Selain itu, ada pula beberapa gejala lainnya seperti berikut:

– cemberut,
– perilaku menipu,
– memanipulasi orang lain untuk menyenangkan mereka,
– mencari kesalahan orang lain,
– menindas orang lain secara verbal,
– bersaing dengan perempuan lain untuk mencari perhatian,
– selalu butuh dipuji.

Demikian ulasan mengenai apa itu Princess Syndrome dan cirinya. Semoga bermanfaat. (*)