Apa Itu Stereotip, Ciri, Faktor Penyebab, Dampak, dan Contohnya

Pelayananpublik.id- Sebagai makhluk sosial, manusia bergaul dengan segala dinamikanya. Salahsatunya adalah stereotip yang dimunculkan untuk suatu hal baik positif maupun negatif.

Pernah mendengar “orang batak itu kasar” atau “orang melayu hanya pandai berbicara”?

Ya itu adalah contoh stereotip suku yang ada di tengah masyarakat. Stereotip ini membuat cap kepada kelompok masyarakat, padahal belum tentu semua anggota kelompok masyarakat itu bersifat demikian.

Berdasarkan contoh tadi, tidak semua orang Batak kasar dan tidak semua orang Melayu pembual. Jadi stereotip di kasus ini berdampak buruk bagi masyarakat, kelompok, atau individu yang bersangkutan.

Begitupun, stereotip tidak selalu berdampak buruk. Ada juga stereotip yang menimbulkan kesan positif terhadap masyarakat tersebut.

Nah, sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya kita pahami dulu apa pengertian stereotip.

Pengertian Stereotip

Secara umum, pengertian stereotip adalah penilaian yang dilakukan oleh seseorang terhadap seseorang lainnya yang hanya dilakukan berdasarkan persepsi saja.

Kemunculan stereotip tidak terlepas daripada proses sosial dan interaksi sosial yang dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) stereotip adalah konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat.

Branscombe dan Byrne (2008:188) mengartikan stereotip sebagai kepercayaan tentang sifat atau ciri-ciri kelompok sosial yang dipercayai untuk berbagai pandangan terhadap kelompok lainnya. Baik yang bersifat positif ataupun negataif.

Sementara Franzoi (2008 : 1999) mengatakan stereotip adalah kepercayaan tentang orang yang menempatkan mereka kedalam satu kategori dan tidak mengizinkan bagi berbagai (variation) individual. Kepercayaan sosial ini didapatkan dari orang lain dan dipelihara melalui aturan-aturan dalam interaksi sosial.

Ciri Stereotip

Suatu hal yang bisa dikatakan sebagai stereotip memiliki beberapa ciri sebagai berikut.

1. Memudahkan hal yang kompleks, yakni jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang rumit dan dilakukan dalam upaya memberikan bantuan dalam pengambilan keputusan secara cepat.

2. Mempengaruhi proses interprestasi informasi. Stereotip dapat membawa orang untuk melihat apa yang mereka harapkan untuk melihat dan memperkirakan bagaimana sering melihatnya.

3. Tidak akurat, malah biasanya hanya memiliki sedikit hal yang benar, atau bahkan sepenuhnya dikarang-karang.

4. Berbau ejekan, berupa gambaran-gambaran serta angan-angan tertentu terhadap individu atau kelompok yang dikenai stereotip tersebut. Ketika individu memiliki stereotip terhadap suatu kelompok atau golongan, sikap stereotip ini akan sukar berubah, meskipun apa yang menjadi stereotip berbeda dengan kenyataan.

Jenis Stereotip

Tahukah Anda ternyata ada banyak jenis stereotip yang tercipta dalam masyarakat kita? Mulai dari stereotip gender, suku, pekerjaan dan lainnya. Adapun beberapa jenis stereotip adalah sebagai berikut:

– Stereotip Gender

Stereotip gender berlaku dengan mengangga  perbedaan ciri-ciri atau atribut yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Perempuan memiliki kelas kedua dalam strata sosial dan kemampuannya lebih rendah dari laki-laki.

– Stereotip Suku

Stereotip suku mengelompokkan orang dengan suku tertentu dan melabeli mereka dengan suatu sifat. Misalnya Batak kasar, Minang pelit dan sebagainya.

– Stereotip Pekerjaan

Sedangkan stereotip atas pekerjaan, misalnya guru bijak, artis glamor, polisi tegas dan sebagainya. Stereotip cenderung megeneralisasikan yang terlalu luas yang tak kenal perbedaan dalam satu kelompok dan persepsi yang kurang akurat pada seseorang. Padahal tidak semua polisi tegas, tidak semua wanita emosional, tidak semua laki-laki dominan, dan tidak semua guru bijak.

Faktor Penyebab Stereotip

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dan mendorong timbulnya stereotip, yaitu;

– Keluarga, stereotio lahir karena perlakuan ayah dan ibu terhadap anak laki-laki dan perempuan yang berbeda.

– Pergaulan, pergaulan manusia juga melahirkan stereotip tertentu. Pergaulan yang dimaksud mulai di sekolah, lingkungan rumah, kuliah bahkan saat bekerja.

– Sekolah, dimana sejumlah pesan gender diberikan kepada anak-anak. Sekolah memberikan perlakuan yang berbeda diantara mereka, terutama memberikan pandangan antara seragam wanita dan yang dikenakan pria.

– Masyarakat, strereotip lahir melalui sikap mereka dalam memandang apa yang telah disediakan untuk anak laki-laki dan perempuan mengidentifikasi dirinya. Perempuan cenderung perlu bantuan dan laki-laki pemecah masalah.

– Media Massa, yakni melalui penampilan pria dan wanita yang sering terlihat di iklan-iklan TV maupun koran.

Manfaat Stereotip

Meskipun stereotip pada umumnya adalah streotipe yang negatif tetapi juga memiliki suatu fungsi, antara lain :

– Menggambarkan suatu kondisi kelompok tertentu

– Memberikan dan membentuk citra kepada kelompok

– Membantu seseorang dari suatu kelompok untuk mulai bersikap terhadap kelompok lainnya

– Melalui stereotip ini kita dapat menilai keadaan suatu kelompok

Contoh Stereotip

1. Orang gemuk adalah pemalas dan rakus

Ini stereotip yang ada di tengah mssyarakat. Dimana mereka lebih senang melihat orang kurus daripada gemuk. Karena orang gemuk dipandang sebagai pemalas dan rakus makanan. Padahal belum tentu, banyak faktor yang menyebabkan orang jadi gemuk, belum tentu karena banyak makan.

2. Orang bercadar adalah ekstremis

Di Indonesia, cadar sendiri masih distereotipkan. Dimana orang yang bercadar pasti dianggap ekstremis. Padahal, ekstremis ini berkonotasi negatif, sementara bercadar adalah pilihan bagi wanita untuk tidak memamerkan kecantikannya.

3. Aparat keamanan bisa disogok dengan uang

Hal ini juga merupakan suatu bentuk dari proses pemikiran secara cepat, karena adanya beragam kejadian serupa, yakni penyogokan yang dilakukan kepada aparat keamanan, sehingga munculah stereotip akan hal tersebut yang menyebar dan diafirmasi oleh beragam kalangan. Kepada semua aparat keamanan.

Cara Mengatasi Stereotip

Jangan hanya memandang suatu kelompok atau individu dari satu sisi saja dan mengabaikan sisi lainnya yang merupakan sebuah kelengkapan dalam diri objek dan dilewatkan. Kita harus menyadari bahwa setiap individu terlahir dengan keunikan tersendiri sehingga tidak perlu disamakan dengan individu yang lain apalagi kelompok.

Menumbuhkan rasa saling menghargai terhadap perbedaan pada suatu kelompok. Maka dari itu sudah saatnya masyarakat lebih objektif dalam menerima sebuah stereotip yang hadir di tengah kehidupan bermasyarakat.

Di antaranya menanamkan rasa toleransi dalam merajut sebuah keberagaman yang dimulai sejak dini, hal ini perlu dilakukan mengingat stereotip dapat terus-menerus dilestarikan melalui komunikasi yang beredar di kalangan masyarakat, dan dapat diturunkan ke generasi berikutnya.

Demikian ulasan mengenai apa itu stereotip, faktor penyebab, dampak, jenis hingga contohnya. Semoga bermanfaat. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *