Pajak Melati Medan: Sejarah, Lokasi dan Daya Tariknya

Pelayananpublik.id– Ketika jalan-jalan ke Kota Medan, Anda pasti pernah mendengar sebuah tempat bernama Pajak Melati. Tempat ini populer di berbagai kalangan mulai dari emak-emak, mahasiswa hingga wisatawan.

Pajak Melati ini merupakan salahsatu tempat berbelanja yang paling melegenda di Medan. Pajak, di Medan artinya pasar, yakni pusat perbelanjaan.

Nah, Pajak Melati merupakan salahsatu pusat perbelanjaan tradisional di Medan. Uniknya apa?
Uniknya, Pajak Melati merupakan sentra penjualan pakaian bekas alias loak alias monza.

Di sana Anda bisa menemukan berbagai barang bekas mulai dari baju, sepatu, tas, selimut, gorden dan lainnya. Bagi sebagian orang tentu saja berbelanja monza ini asyik, karena harga murah kualitas oke. Sebab di sana ada banyak sekali barang merk luar negeri yang dipatok dengan harga murah.

Karena itulah banyak orang terlebih mahasiswa yang hobi hunting barang monza. Selain untuk dipakai, barang bagus juga bisa dijual kembali dengan harga lebih mahal karena brand terkenal.

Sejarah Pajak Melati

Jadi, awalnya Pajak Melati atau Pamela itu adalah sebidang sawah yang kemudian ditempati dan dibeli orang untuk dijadikan lapak jualan.

Di Pajak Melati terdapat banyak kios-kios penjual pakaian bekas impor atau biasa disebut ‘monza’.

Apa itu Monza? Monza itu sebutan untuk pakaian bekas. Asal-usulnya adalah dari kata ‘Mongonsidi Plaza’.

Itu karena sekira tahub 1990-an, terdapat satu pusat perbelanjaan monza terbesar di Medan yakni Jalan Dr. Mongonsidi Medan. Karena itulah lama-lama orang Medan terbiasa dengan kata ‘monza’ untuk menyebut pakaian bekas impor yang dibeli dari Jl. Mongonsidi.

Namun, setelah tahun 2000-an, pasokan monza di kios-kios Jl. Mongonsidi semakin sedikit. Malaj kios-kios itu beralih dari menjual barang bekas jadi barang baru misalnya tas, koper, ambal dan lainnya. Dengan demikian, Jalan Mongonsidi tidak lagi menjadi lokasi penjualan barang bekas alias Monza.

Tidak diketahui mulai tahun berapa Pajak Melati mulai beroperasi dan menjadi sentra penjualan pakaian bekas. Namun hampir satu dekade, Pajak Melati dikenal sebagai salah satu kawasan penjualan monza terbesar di Medan, selain di Pajak Simalingkar dan Pajak Helvetia.

Sampai kini Pajak Melati tetap menjadi kawasan yang selalu diincar oleh para ‘pemburu’ pakaian kualitas impor berharga miring.

Jadwal Buka Bal

Jadi, barang bekas yang dijual di Pajak Melati adalah berasal dari Tanjung Balai. Biasanya setiap penjual membeli pakaian per bal, dalam satu bal terdapat ratusan pakaian yang tentu saja random warna, ukuran, merk-nya.

Jadi ketika penjual buka bal, maka disitulah surga bagi pemburu pakaian impor. Karena pilihan masih banyak, dan harga lebih murah. Sebab jika sudah disortir oleh penjual, maka harga bisa lebih mahal. Contohnya kaos yang telah dipajang atau digantung dengan hanger akan berbeda harga dengan yang masih dalam tumpukan.

Nah, ternyata buka bal monza itu pun ada jadwalnya yakni hari Selasa, Jumat dan Minggu.

Dalam tiga hari tersebut, kios monza yang jumlah mencapai seratusan, buka semua. Beda dengan hari biasa, hanya beberapa kios yang buka.

Daya Tarik Pajak Melati

Seperti yang sudah disebutkan di atas, Pajak Melati ini menyediakan pakaian-pakaian impor bekas dengan harga murah.

Daya tariknya adalah Anda perlu kelihaian dalam berbelanja jika ingin mendapat barang bagus.

Kelihaian yang dimaksud adalah kemampuan tawar-menawar harga yang sangat miring. Misalnya harga Rp100 ribu Anda tawar menjadi Rp20 ribu. Berhasil? Berarti Anda lihai.

Nah, percaya atau tidak tingkat keberhasilan tawar-menawar harga di Pajak Melati akan dipengaruhi penampilan Anda. Jika penampilan Anda mentereng, siap-siap dianggap orang kaya dan harga pun akan berbeda. Sebaiknya berpenampilanlah biasa saja, sesederhana mungkin.

Lokasi Pajak Melati

Jika Anda sedang berada di Medan dan ingin ke Pajak Melati, lokasinya ada di Jalan Flamboyan Raya, berdekatan dengan persimpangan menuju Tanjung Anom. Kawasan ini juga mencakup kawasan Jalan Sakura Raya yang aksesnya bisa langsung menuju Asam Kumbang, Kampung Lalang dan menuju Binjai.

Anda bisa ke sana dengan angkot, becak, ojek dan lainnya. Sebab Pajak Melati ini berada di pinggir jalan besar.

Oh ya, selain monza, Pajak Melati termasuk pasar tradisional yang paling ramai di Medan. Warga sekitar, khususnya, tak sedikit yang mengaku puas belanja di Pajak Melati. Selain lengkap, harga-harga sembako di pasar ini juga tergolong murah bila dibandingkan dengan pasar-pasar lain di Medan.

Adapun angkot yang melewati Pajak Melati antara lain adalah:

1. Angkot Nomor 06 (Kuning)

Rute: Pinang Baris – Pajak Melati – Simp. Pemda – Tanjung Sari – TASBI Pintu 1 – Jl.
Dr. Mansyur – USU – Simp. Kampus – Simp. Brimob – Jl. S. Parman – Jl. Monginsidi – Jl.
Ir. H. Juanda – Jl. Sisingamangaraja – Amplas

2. Angkot N03 (Kuning)

Rute: Tuntungan – Lau Bakeri – Tanjung Anom – Pajak Melati – Simp. Pemda – Simp. Pos – Titi Kuning – Amplas

3. CV Mitra Tansport 03

Rute: simpang Pos – Simpang Melati.

Demikian ulasan singkat tentang Pajak Melati Medan. Semoga bermanfaat. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *