Menlu Retno: Perempuan Harus Bisa jadi Agen Perdamaian dan Toleransi

Pelayananpublik.id- Wanita memiliki peranan penting dalam kemajuan dunia. Tak sedikit tokoh perempuan yang memberi pengaruh penting di dunia.

Dari situ disimpulkan sudah tidak zamannya lagi perempuan hidup dalam kungkungan norma yang justru mengkerdilkan dirinya sendiri di lingkungannya. Sebab perempuan punya kesempatan yang sama besarnya dengan laki-laki untuk membawa perubahan di dunia.

Bahkan, perempuan diharapkan dan didorong untuk menjadi agen perdamaian dan agen toleransi di dunia.

“Perempuan bisa dan selalu bisa berperan dalam kemajuan dunia,” kata Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno LP Marsudi dalam pertemuan daring dengan topik Ngobrol Seru International Women’s Day 2021 yang bertema “Perempuan dan Perdamaian Dunia”, Sabtu (6/3/2021).

Menlu Retno mengatakan harapannya itu agar semua perempuan Indonesia berdaya dan tidak ragu untuk mengambil peran penting dalam sebuah perubahan yang baik.

Dirinya sendiri sebagai wanita telah mengupayakan kesetaraan gender di lingkungan kerjanya.

“Di Kemenlu, jumlah diplomat itu fifty-fifty antara laki-laki dan perempuan,” katanya.

Ia mencontohkan, kalau dulu ada larangan menikah antar sesama diplomat. Jika mereka menikah maka salahsatunya harus mengundurkan diri.

“Dan biasanya yang mundur itu perempuannya,” sambungnya.

Namun sekarang, kata dia, aturan seperti itu tidak ada lagi di Kemenlu. Mereka sudah diizinkan menikah tanpa harus ada yang mundur dari jabatannya.

Bahkan kantor Kemenlu menyediakan penitipan anak untuk diplomat perempuan yang memiliki anak.

Pertemuan daring ini dihelat IDN Times dan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI). Hadir mengikuti acara tersebut Ketua FJPI Uni Lubis, Sekretaris FJPI Khairiah Lubis, Dirut Perum Perusahaan Film Negara ( PFN) Judith Dipodiputro, Penasihat Gender and Youth di WHO Diah Saminarsih, pemred berbagai media serta anggota FJPI di berbagai daerah di Indonesia.

Perlindungan TKW Luar Negeri

Dalam kesempatan itu, Menlu Retno juga menjawab pertanyaan peserta tentang sikap mereka terhadap Pekerja Migran Indonesia khususnya yang perempuan alias TKW.

Retno menjelaskan pihaknya terus berupaya bernegosiasi ke berbagai negara agar ada proteksi terhadap TKW asal Indonesia.

Ia mengatakan pihaknya sudah memberlakukan sistem proteksi di hilir, namun belum didukung upaya proteksi di hulu.

“Kita sudah ada proteksi, tapi masih ada pihak yang menggunakan jalan samping yang mengirim saudara kita ke luar negeri tanpa ada pembekalan, tanpa ada proteksi. Jadi kita harus cepat negosiasi untuk sistem di hulunya, termasuk law enforcementnya,” kata dia.

Ia mengatakan selain melakukan proteksi di negara tujuan, pemerintah juga harus menegakkan aturan di dalam negeri sendiri untuk mencegah lolosnya TKW ilegal ke negara tujuan.

“Setuju kita buat sistem yang bagus, law enforcement ditegakkan, nanti di luar negerinya, itu adalah tugas diplomat kita untuk memproteksi jika ada masalah. Tapi ini tidak maksimal jika di hulunya tidak dirapikan dengan baik, dan law enforcement tidak ditegakkan,” kata dia. (Nur Fatimah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *