Yayasan dan Rektor ITM: Kepentingan Mahasiswa Jadi Perhatian Utama

Pelayananpublik.id – Unjuk rasa Mahasiswa ITM yang sudah berlangsung selama sepekan hingga hari ini Senin (13/7/2020), menimbulkan keprihatinan Pembina Yayasan Pendidikan dan Sosial Dwiwarna dan jajaran Rektor ITM.

Dr. Ir. Masrizal Masri, selaku Pembina Yayasan dengan didampingi oleh Ir. Mahyuzar Masri, M.Si. Sekretaris Pengurus Yayasan, Rektor ITM Dr. Kuswandi dan Wakil Rektor I Bidang Akademik Dr. Ir. Suwarno menggelar jumpa pers dengan beberapa awak media untuk menyampaikan keterangan.

Menurut Mahrizal, unjuk rasa mahasiswa ITM merupakan hal yang wajar karena mereka menuntut hak untuk mendapatkan layanan akademik yang bermutu.

Selama ini, layanan tersebut memang belum memadai karena adanya konflik internal di dalam Badan Penyelanggara ITM.

Secara terbuka Mahrizal mengungkapkan bahwa upaya menyelesaikan konflik internal teramat sulit diwujudkan karena Rapat Pembina Yayasan yang digagasnya tidak pernah digubris oleh Cemerlang, S.E. yang juga merupakan Pembina Yayasan.

“Sudah enam kali saya mengundang beliau untuk hadir pada Rapat Pembina, tetapi tidak pernah ditanggapi. Upaya mediasi yang dilakukan oleh Kepala LLDIKTI Wilayah I pun tidak beliau hadiri, sehingga harus diagendakan kembali,” ungkap Mahrizal.

“Saya juga sudah menerima surat permintaan dari para dosen dan pegawai agar kami dapat segera bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah kami.
Saya juga sudah menerima undangan dari Badan Eksekutif Mahasiswa ITM untuk berdialog bersama dengan Sdr. Cemerlang. Saya menyatakan kesediaan atas ide-ide mereka tentang bagaimana masalah harus diselesaikan, termasuk secara hukum jika cara itu tidak dapat dihindari. Saya tidak mau konflik internal Yayasan berdampak merugikan bagi sivitas akademika ITM, terutama mahasiswa,” tegas Mahrizal pula.

Sementara itu, Pengurus Yayasan Ir. Mahyuzar Masri, M.Si. menyatakan bahwa, para mahasiswa memang sering berunjuk rasa dan itu menunjukkan mereka mampu berpikir kritis dan peka pada persoalan kampusnya.

Jika ada insiden kecil yang berakibat pada rusaknya sedikit sarana kampus, selalu bisa diatasi dengan baik. Mereka masih muda dan mereka adalah anak-anak kami, karena itu jika ada insiden kecil tak patut melaporkan mereka ke polisi seperti ancaman oknum-oknum tertentu.

Lebih lanjut Mahyuzar menyatakan bahwa oknum-oknum tersebut juga menuduh Ketua Senat ITM sebagai operator demonstrasi mahasiswa. Padahal, para mahasiswa pengunjuk rasa sudah mengatakan bahwa tuduhan itu tidak benar.

“Tuduhan keji itu sungguh keterlaluan dan menunjukkan mereka memang benar-benar tidak paham bagaimana menyelenggarakan dan mengelola perguruan tinggi,” ungkap Mahyuzar.

Senat adalah lembaga normatif yang berfungsi mengawasi pelaksanaan tridharma perguruan tinggi di ITM. Bagi Mahyuzar, anggota Senat adalah perwakilan dosen terpilih dengan reputasi akademis dan punya integritas.

Pada kesempatan tersebut Rektor ITM Dr. Kuswandi menyebutkan bahwa selama unjukrasa berlangsung, meski pun kampus di blokir mahasiswa dengan cara menutup pintu gerbang masuk tetapi proses akademik masih bisa diselenggarakan secara daring oleh para dosen.

Sehubungan dengan tuntutan mahasiswa agar uang kuliah diturunkan, Kuswandi menyatakan bahwa dirinya sudah mendiksusikannya dengan Pembina dan Pengurus Yayasan.

“Bersama, kami menyetujuinya dan tinggal menghitung secara cermat besaran penurunan serta mengatur teknis pelaksanaannya dengan tepat,” kata Kuswandi.

Lebih lanjut, pihaknya mengutamakan kepentingan mahasiswa di tengah konflik internal Badan Penyelenggara dan sangat memaklumi kesulitan para mahasiswa dan orang tua mereka pada situasi pandemi Covid-19 ini.

Terkait dengan keberlangsungan proses akademik, Dr. Ir. Suwarno selaku Wakil Rektor I Bidang Akademik juga mengatakan bahwa ujian akhir semester (UAS) dapat diselenggarakan dengan lancar meski terdapat beberapa kesulitan teknis.

“Praktikum, seminar penelitian, mau pun sidang skripsi tetap dapat kita lakukan dengan mengikuti protokol kesehatan,” pungkas dosen dipekerjakan LLDIKTI Wilayah I Sumatera Utara ini.

Dihubungi melalui telepon, Ketua Senat ITM mengutarakan sebagai dosen LLDIKTI yang dipekerjakan di ITM untuk mengemban tugas negara saya harus netral dan tdk boleh memihak pd salah satu pihak yayasan yang berkonflik.

“Selama saya terpilih sebagai Ketua Senat ITM, Senat tidak pernah dimintai usul, pertimbangan dan persetujuan mengenai keputusan-keputusan tentang Pimpinan ITM atau pun dimintai masukan tentang Panduan Dasar Pengelolaan ITM oleh bpk Cemerlang sebagai Pembina Yayasan Badan Penyelenggara ITM. Pada hal, itu diatur dalam Statuta ITM dan peraturan perundang-undangan tentang pendidikan tinggi,” jelasnya dari sambungan telepon. (rls)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *