“Tidurnya Orang Puasa Adalah Ibadah” Ternyata Hadis Palsu, Baca Selengkapnya …

Pelayananpublik.id- Umat islam tengah menjalankan puasa Ramadan tahun ini. Mereka pun berlomba-lomba mengerjakan ibadah agar mendapatkan pahala yang berlimpah di bulan suci ini.

Sebab di bulan Ramadan semua kebaikan pahalanya akan dilipatgandakan. Bulan ini juga dikenal dengan bulan penuh rahmat serta ampunan. Jadi dengan mengerjakan kebaikan selama Ramadan.

Karena mulianya Bulan Ramadan, sehingga semua ibadah, semua pekerjaan baik yang diniatkan untuk Allah Swt akan mendapat pahala. Tak sedikit juga yang menganggap tidurpun berpahala dalam bulan Ramadhan ini.

Ada yang menyebut itu berdasarkan hadist yang berbunyi:

نومُ الصائمِ عبادةٌ وصمتُه تسبيحٌ وعملُه مُضاعفٌ ودُعاؤهُ مُستجابٌ وذَنبُه مَغفُورٌ

“Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, amalannya dilipat gandakan (pahalanya), doanya dikabulkan dan dosanya diampuni”.

Sehingga tak sedikit orang juga berlomba tidur saat puasa karena menganggap ia tetap berpahala. Padahal justru jika tidurnya bablas malah akan menggugurkan pahala terutama jika shalat jadi tidak dikerjakan karena tidur.

Belakangan terungkap kalau hadis itu palsu. Dalam sebuah ceramah Ustadz Adi Hidayat (UAH) juga disebutkan kalau itu hadist palsu namun banyak digunakan orang sebagai dalil.

Ustadz yang dikenal sebagai penghafal Quran dan Hadist itu menegaskan kalau hadist itu palsu.

“Tidurnya orang berpuasa adalah ibadah. Hadist palsu! Hadist palsu antum ikutin. Yang diperintahkan itu beribadah. Nah karena ada hadist ini antum tidur, bangun, tidur lagi sampai berbuka, gak bener itu,” ucapnya.

UAH mengatakan semua hal yang dikerjakan akan mendapat pahala dan ampunan ketika diniatkan untuk beribadah kepada Allah Swt.

Ia mencontohkan ketika ke kantor, sepanjang jalan ke kantor orang bisa mengingat maksiat apa yang pernah dilakukannya di jalan itu selama ini, lalu beristighfar agar diampuni. Itu dinamakan bermuhashabah.

“Bermuhashabah dirilah dimanapun Anda berada, mohon ampun. Ingat berapa kali Anda memaki, mengumpat, bersuudzon di jalan itu, lalu istighfar,” katanya.

Hadist tentang tidur saat puasa itu juga tidak tercantum di kitab-kitab hadis populer.

Dilansir dari Islami.co, hadist tersebut diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Kemudian Imam Suyuti menukil hadis tersebut dalam al Jami’ al Shagir dan mendhaifkannya.

Menurut Imam Baihaqi dalam hadis tersebut terdapat perawi yang dianggap sebagai rawi yang dhaif, seperti Ma’ruf bin Hisan dan Sulaiman bin Amr an’Nakha’i.

Banyak ulama hadis mengatakan bahwa Sulaiman adalah rawi yang lebih dhaif dari Ma’ruf.

Bahkan Imam bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in mengatakan bahwa Sulaiman dikenal sebagai pemalsu hadis. Imam Bukhari sendiri mengatakan bahwa hadis Sulaiman tersebut matruk alias semi palsu.

Ditemukannya rawi yang memalsukan hadis menjadikannya sebagai hadis yang bermasalah.

Maka dari itu, hadis ini bisa disebut sebagai hadis yang matruk. Menurut para as-Suyuthi, walaupun hadis tersebut tidak berkaitan dengan akidah dan halal-haram, hadis tersebut tetap tidak boleh menjadi dasar atau diamalkan.

Nah, setelah mengetahui itu hadist palsu, mulai sekarang jangan dijadikan alasan untuk tidur seharian ya.

Bukan berarti tidak boleh tidur, karena tidur adalah manusiawi. Yang tidak boleh itu adalah tidur yang bablas hingga lupa dan melalaikan kewajiban beribadah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *