Pengertian Tauhid, Pembagian, Hingga Manfaat Mempelajarinya

Pelayananpublik.id- Dalam banyak diskusi agama, istilah tauhid sering kali muncul. Bahkan banyak orang yang mengaku telah mempelajari ilmu tauhid dengan menjabarkan beberapa dalil yang ia ketahui.

Banyak orang yang menyangka mempelajari ilmu tauhid akan membuat manusia lupa dunia, dan hanya mengingat akhirat.

Benarkah demikian?

Sebelum melangkah lebih jauh, Anda perlu memahami apa itu tauhid.

Tauhid berasal dari Bahasa Arab dan merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja.

Sedangkan secara istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).

Dari penjabaran maknanya dapat dilihay bahwa manusia menyembah banyak hal, bisa malaikat, nabi, bahkan makhluk ciptaan Allah lainnya.

Namun orang yang bertauhid hanya menyembah Allah SWT saja, bukan makhluk lainnya.

Pembagian Tauhid

Ada tiga pembagian tauhid yakni
Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Al Asma Was Shifat.

1. Tauhid Rububiyah

Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17).

Dalam tauhid rububiyah, manusia meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allahlah yang memberikan rizqi, Allah yang mendatangkan badai dan hujan, Allah menggerakan bintang-bintang, dll.

Dan tauhid rububiyah ini diyakini manusia baik itu kafir, jahiliyah dan lainnya. Adapun yang tidak mengimani rububiyah Allah adalah kaum komunis atheis.

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Orang-orang komunis tidak mengakui adanya Tuhan. Dengan keyakinan mereka yang demikian, berarti mereka lebih kufur daripada orang-orang kafir jahiliyah” (Lihat Minhaj Firqotin Najiyyah).

2. Tauhid Uluhiyah

Jika Tauhid Rububiyah adalah meyakini kekuasaan Allah. Maka Tauhid Uluhiyah adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan baik yang zhahir maupun batin (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17).

Sedangkan makna ibadah adalah semua hal yang dicintai oleh Allah baik berupa perkataan maupun perbuatan. Apa maksud ‘yang dicintai Allah’? Yaitu segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, segala sesuatu yang dijanjikan balasan kebaikan bila melakukannya.

Jadi dalam Islam sendiri bertauhid tak cukup hanya mengakui kebesaran Allah, tapi harus menunjukkan kecintaan dengan melakukan ibadah.

Maka seorang yang bertauhid uluhiyah hanya meyerahkan semua ibadah ini kepada Allah semata, dan tidak kepada yang lain.

Sedangkan orang kafir jahiliyyah selain beribadah kepada Allah mereka juga memohon, berdoa, beristighotsah kepada selain Allah. Dan inilah yang diperangi Rasulullah, ini juga inti dari ajaran para Nabi dan Rasul seluruhnya, mendakwahkan tauhid uluhiyyah.

3. Tauhid Al Asma’ was Sifat

Yang terakhir adalah Tauhid Al Asma’ was Sifat. Yakni mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Bertauhid asma wa sifat Allah berarti dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif, tanpa ta’thil dan tanpa takyif (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul).

Tahrif maksudnya memalingkan makna ayat atau hadits tentang nama atau sifat Allah dari makna zhahir-nya menjadi makna lain yang batil. Sebagai misalnya kata ‘istiwa’ yang artinya ‘bersemayam’ dipalingkan menjadi ‘menguasai’.

Ta’thil adalah mengingkari dan menolak sebagian sifat-sifat Allah. Sebagaimana sebagian orang yang menolak bahwa Allah berada di atas langit dan mereka berkata Allah berada di mana-mana.

Takyif adalah menggambarkan hakikat wujud Allah. Padahal Allah sama sekali tidak serupa dengan makhluknya, sehingga tidak ada makhluk yang mampu menggambarkan hakikat wujudnya.

Misalnya sebagian orang berusaha menggambarkan bentuk tangan Allah,bentuk wajah Allah, dan lain-lain.

Manfaat Mempelajari Ilmu Tauhid

Mempelajari ilmu tauhid tidaklah segampang membalikkan telapak tangan. Karena ilmu tauhid bukan hanya untuk diketahui, tapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari tanda kecintaan kita kepada Allah SWT.

Ilmu tauhid sejatinya sangat luas dan dalam. Yang kami sampaikan ini hanya sebatas pengertian dan tak lebih dari kulit luat saja.

Maka wajar bila orang yang serius mempelajari ilmu tauhid akan “meninggalkan” dunia dan berserah kepada Allah. Artinya mereka bukan melupakan dunia, tapi melakukan segalanya sebagai ibadah dan karena Allah.

Manfaat mempelajari ilmu tauhid tentu saja untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, tuhan Maha Pencipta. Bukan hanya mengetahui tapi menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Sangat penting dan urgen bagi setiap muslim mempelajari tauhid yang benar, bahkan inilah ilmu yang paling utama. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Sesungguhnya ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung kedudukannya. Setiap muslim wajib mempelajari, mengetahui, dan memahami ilmu tersebut, karena merupakan ilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan hak-hak-Nya atas hamba-Nya” (Syarh Ushulil Iman, 4).

Jadi jika Anda ingin beribadah dengan benar, maka pelajarilah ilmu tauhid. Ingat, jangan hanya paham teori, tapi Anda juga harus melakukan perintah-perintah Allah sebagai ibadah.

Demikian ulasan mengenai ilmu tauhid, pembagian hingga manfaatnya. Semoga bermanfaat. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.