Arti Opini, Bedanya dengan Fakta, Hingga Contohnya

Pelayananpublik.id- Sebagai insan yang sangat dekat dengan teknologi informasi. Anda tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah opini.
Ya, saat ini sangat banyak tulisan opini yang beredar baik di media cetak, online maupun media sosial.

Hal yang disorot dalam opini tersebut pun beragam, mulai dari soal remeh-temeh dalam kehidupan sehari-hari hingga persoalan politik yang rumit.

Lalu apa sebenarnya pengertian opini tersebut? Opini adalah pendapat, itulah pengertiannya secara sederhana.

Opini merupakan suatu pendapat, pikiran, atau tanggapan seseorang atau kelompok yang belum diakui kebenarannya. Dengan kata lain, opini bersifat subjektif dan setiap orang bisa saja memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang suatu peristiwa atau objek.

Opini dapat disampaikan dengan berbagai cara, yakni secara aktif, secara pasif, melalui verbal, melalui bahasa konotatif, melalui gestur, melalui cara berpakaian dan lainnya.

Beda Opini dengan Fakta

Opini seringkali didukung dengan beberapa fakta untuk menguatkan pendapat seseorang tersebut. Namun tak jarang pula orang hanya beropini tanpa menyertakan fakta apapun.
Parahnya, sebagian orang terkadang masih keliru membedakan opini dan fakta, sehingga gampang terpancing sebuah perdebatan.

Berikut adalah beda opini dengan fakta.

1. Fakta sudah jelas kebenarannya, sedangkan opini belum tentu benar. Namun terkadang opini mengandung beberapa fakta yang juga dibalut pendapat pribadi.

2. Fakta, karena mengandung kebenaran, maka dipercayai dan diakui semua orang. Sementara opini bisa diakui sebagian orang dan bisa juga tidak dipercaya sama sekali.

3. Fakta bisa menjadi acuan atau referensi yang kuat, sedangkan opini tidak.

4. Fakta memiliki data pendukung yang kuat, sementara opini tidak.

Contoh Opini dan Fakta

Untuk membandingkannya secara lebih jelas, Anda bisa menyimak contoh-contoh berikut ini:

1. Fakta: Megawati adalah satu-satunya wanita yang pernah menjabat Presiden Indonesia.
Opini: Gaya kepemimpinan Megawati mengikuti ayahnya, Ir Soekarno

2. Fakta: Medan adalah Ibu Kota Provinsi Sumut
Opini: Medan adalah kota yang tak ramah pejalan kaki

3. Fakta: 1 hari ada 24 jam
opini: 1 hari terasa lama sekali

4. Fakta: Donald Trump adalah presiden Amerika Serikat
Opini: Donald Trump tidak cocok jadi presiden

5. Fakta: Hari ini hujan turun
Opini: Hari ini dingin sekali

Ciri Opini

Nah, dari penjelasan di atas dan setelah dibandingkan dengan fakta, maka kita dapat menarik kesimpulan ciri-ciri sebuah opini. Adapun ciri-ciri opini adalah sebagai berikut:

1. Bersifat Subjektif

Inti dari isi suatu opini adalah pemahaman dan penilaian seseorang tentang suatu kejadian dimana pendapat tersebut muncul berdasarkan pengetahuan, pengalaman, harapan atau keinginan. Dengan kata lain, setiap orang kemungkinan besar akan memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang suatu kejadian yang sama.

2. Menjelaskan Tentang Hal Tertentu

Isi suatu opini menjelaskan tentang sesuatu hal (peristiwa ataupun objek), dengan memperhatikan gejala-gejala lalu memberikan prediksi, harapan, dan saran terhadap hal tersebut.

3. Kebenarannya Masih Diragukan

Isi suatu opini belum dapat dipastikan kebenarannya sehingga perlu diuji dan dibuktikan. Itulah sebabnya dalam mengungkapkan opini biasanya selalu menggunakan kata mungkin, misal, menurut saya, dan lainnya.

Unsur-Unsur dalam Opini

Suatu opini tidak dapat diungkapkan begitu saja, namun ada sesuatu yang mendasarinya. Sesuai dengan pengertian opini di atas, adapun beberapa unsur yang membentuk suatu opini adalah sebagai berikut:

– Nilai Kepercayaan. Pada umumnya seseorang mengungkapkan opini terhadap suatu hal didasari oleh adanya kepercayaan. Nilai kepercayaan ini terbentuk dapat dipengaruhi oleh Agama, Politik, Budaya, dan lain-lain.

Nilai kepercayaan memiliki pengaruh yang sangat besar bagi seseorang ketika menyampaikan pendapatnya. Itulah sebabnya mengapa orang-orang yang mempunyai latar belakang kepercayaan yang sama cenderung memiliki opini yang sama.

– Sikap. Sikap seseorang dalam menyikapi suatu peristiwa akan melahirkan suatu opini. Adapun pernyataan sikap tersebut bentuknya bisa membenarkan atau menyanggah informasi lain yang dilihat atau didengar melalui suatu media.

– Persepsi. Opini publik dapat terbentuk karena adanya persepsi karena persepsi merupakan pemberian makna terhadap suatu peristiwa. Ketika seseorang mendapatkan informasi tertentu maka pada saat itu akan terjadi penilaian terhadap penyebab dan kemungkinan yang dapat terjadi, dan pada akhirnya akan menghasilkan suatu opini.

Contoh Tulisan Opini

Bom Bunuh Diri, Babi dan Cara Kita Memandang Persoalan

Catatan Fans Milan mengamati, ada banyak kecenderungan orang dalam melihat sisi di balik sebuah peristiwa. Ya tentu saja ini pengamatan selayang pandang, tanpa kajian ilmiah apalagi melalui proses sidang meja hijau yang mendebarkan itu.

Begini, ada serangkaian peristiwa di Medan yang sedang hype. Pertama adalah soal babi-babi yang terjangkit penyakit, meninggal dan diarungkan ke sungai. Habitat air jadi tercemar, lingkungan sekitar turut jadi korban. Rakyat heboh. Hebohnya kemana-mana.

Ada yang menyalahkan si pembuang, tapi tak sedikit yang mengaitkannya ke persoalan politik dan parahnya menyindir-nyindir agama. Well, tanpa harus menyebut nama, lini masa media saya banyak yang demikian. Aneh, karena komentar jauh sekali dari substansi persoalan.

Begitupula soal bom bunuh diri yang melukai enam korban itu. Seolah mendapat bahan “balasan” ada pula yang mengaitkan ke persoalan radikalisme lalu melipir menyudutkan agama tertentu. Lah, kok jadi begitu?

Kok jadi sedemikian liar dan sensitifnya kita pada suatu isu, sehingga kemudian dikait berkait dengan agama tertentu. Kejahatan adalah kejahatan. Ia tak pandang agama. Sebab agama, saya kira, tak ada yang mengajarkan tentang buanglah babi berpenyakit ke sungai atau bomlah dirimu sendiri.

Maka selalu penulis catatan fans Milan, yang harus berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan, mengimbau kepada khalayak untuk berhenti menegasikan suatu peristiwa pada hal-hal yang berbau SARA. Itu ndak keren dan sangat primitif. Kayak orang gak makan bangku sekolahan.

Mari kita selalu berupaya menganalisis pada substansi. Pada persoalan-persoalan inti, terlepas persoalan itu tidak berdiri sendiri, ada asas praduga tak bersalah yang harus diusung. Jangan biasakan menuding kelompok-kelompok. Setiap kejahatan harus dilawan bersama. Jangan turut menyebarkan teror dengan mengafiliasikan gerakan bom bunuh diri pada agama tertentu.

Suudzon. Berburuk sangka. Itu temannya setan. Kita harus berempati pada korban yang terluka. Pada bapak polisi yang harus dirawat, pada keluarga korban yang merasakan getirnya kekhawatiran. Pada korban selamat dan bagaimana mereka harus menghadapi traumatik yang mendalam.

Jangan malah menyalahkan. Menuding-nuding. Lah, situkan gak di tempat. Gak tau juga kronologis cerita yang sebenarnya bagaimana. Berpikir kritis itu berbeda dengan nyinyir. Nyinyir itu ndak asyik apalagi pada peristiwa teror, di mana banyak nyawa yang menjadi pertaruhan!

Geram awak, payah kali dibilangin. Lama-lama awak bubarkan juga AC Milan ini…

Oleh: Bambang Riyanto

(Sumber: kompasiana)

Demikianlah ulasan mengenai opini, cirinya, bedanya dengan fakta hingga contoh tulisan opini. Semoga bermanfaat. (Nur Fatimah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *