Sastra: Pengertian, Sejarah, Fungsi, Jenis dan Manfaatnya Dalam Kehidupan

Pelayananpublik.id- Sastra identik dengan tulisan-tulisan atau kisah indah yang bermakna dalam.
Sastra sering muncul berbentuk puisi, prosa dan drama.

Lalu apa sebenarnya makna sastra, dan apa saja jenisnya?

Pengertian Sastra

Sastra berasal dari bahasa Sansekerta, shastra yang berarti yaitu teks yang mengandung instruksi.

Sementara, menurutKamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sastra adalah karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan biasa lainnya, memiliki berbagai ciri keunggulan, keaslian, keartistikan, keindahan, isi dan ungkapan.

Karya sastra adalah karangan yang memiliki nilai kebaikan berupa tulisan dengan bahasa yang indah penuh estetika.

Dalam prakteknya, sastra memberikan pengetahuan mengenai manusia, sosial, intelek, dengan gaya yang khas dan unik. Sehingga banyak orang mengatakan sastra adalah refleksi dari kehidupan.

Namun, akhir-akhir ini sastra sendiri mengalami pembiasan pada istilahnya. Seperti istilah sastra dengan sastrawi. Di mana sastra lebih condong pada teksnya, sedangkan sastrawinya lebih condong pada nuansa abstraknya. Jadi, bisa dikatakan bahwa sastrawan adalah orang yang menggeluti dunia sastrawi, bukan sastra.

Sementara itu, Wallek dan Warren bahwa sastra adalah sebuah karya seni yang memiliki cirri-ciri ciptaan, kreasi, bukan imitasi, emosi spontan, otonom, koheren, keselarasan, sintesis bertentangan, dan ungkapan dalam keseharian.

Sejarah Sastra di Indonesia

Perkembangan sastra di Indonesia sudah tercatat sejak abad 18. Pada awalnya karya sastra di Indonesia masih berbentuk babad, syair, hikayat dan sebagainya.

Karya sastra pada saat itu juga ditulis di berbagai media seperti kulit hewan, kulit kayu dan benda lain.

Dalam sejarah sastra Indonesia dikenal dengan istilah angkatan. Angkatan ini merupakan kelompok sastrawan yang muncul sesuai zamannya. Dalam setiap angkatan karya sastra yang dihasilkan juga memiliki ciri khas masing-masing.

Adapun angkatan dalam sejarah sastra adalah:

1. Pujangga Lama

Angkatan Pujangga Lama adalah kelompok karya sastra tabg dihasilkan sebelum abad ke-20.

Pada angkatan ini didominasi oleh syair, pantun, gurindam, dan hikayat. Adapun penulis atau sastrawan ternama pada angkatan pujangga lama antara lain adalah Hamzah Fansuri, Syamsudin Pasai, Abdurrauf Singkil, Nuruddin ar-Raniri dan lainnya.

2. Sastra Melayu Lama

Karya sastra melayu lama dihasilkan pada tahun 1870-1942 dan berkembang di kalangan masyarakat Sumatra, seperti Langkat, Tapanuli, Minangkabau, dll.

Masih hampir mirip dengan pujangga lama, karya sastra di masa ini juga berbentuks yair, hikayat, dan terjemahan novel barat.
Contoh karya sastra pada masa ini adalah Robinson Crusoe (terjemahan), dan Nyai Dasima oleh G. Francis (Indonesia), Bunga Rumpai oleh A.F. Van Dewall.

3. Angkatan Dua Puluhan

Setelah sastra melayu lama, angkatan selanjutnya adalah angkatan dua puluhan atau sering disebut balai pustaka.

Angkatan ini lahir di tahun 1920-an. Disebut angkatan balai pustaka karena penerbit yang banyak menerbitkan adalah Balai Pustaka. Pada angkatan ini isi yang ada adalah mengenai prosa ( roman, novel, cerpen, drama ) dan puisi. Beberapa karya sastra angkatan ini adalah Azab dan Sengsara (roman, 1920, oleh Merari Siregar) Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (Nur Sutan Iskandar, 1923) dan lainnya.

4. Angkatan Tiga Puluhan

Pada tahun 1933 muncul angkatan Pujangga Baru atau disebut juga angkatan 30an.

Disebut pujangga baru karena pada saat itu ada majalah sastra yang terkenal yaitu majalah Pujangga Baroe. Karya sastra angkatan ini bersifat dinamis, individualis, tidak terikat tradisi, intelektual, dan nasionalistik.

Pada masa ini terdapat dua kelompok sastrawan Pujangga Baru, yakni kelompok seni untuk seni yaitu Sanusi Pane, Tengku Amir Hamzah
Dan seni untuk pembangunan masyarakat yaitu S.T. Alisyahbana, armijn Pane Efendi.

5. Angkatan ‘45

Karya sasta oleh Angkatan 45 ditandai dengan isinya yang menyinggung perjuangan bangsa.

Pelopor angkatan ini adalah Cahiril Anwar. Ciri-ciri karyanya antara lain adalah bebas, individualistik, realistik, dan futuristik. Karya-karya dari angkatan ini di antaranya adalah Kerikil Tajam (1949, Cahiril Anwar)dan Dari Ave Maria ke jalan lain ke Roma (Idrus).

6. Angkatan 1950-1960an

Angkatan selanjutnya adalah yang muncul pada tahun 1950-1960an. Sastrawannyang terkenal pada masa ini adalah Pramoedya Ananta Toer. Karya pada masa ini didominasi oleh cerpen dan

7. Angkatan 66

Nama angkatan ini diberikan oleh H.B. Jassin. Muncul pada saat keadaan politik Indonesia kacau karena terror PKI. Karya sastranya banyak bersifat protes terhadap keadaan yang kacau pada saat itu. Beberapa karya pada angkatan ini adalah Tirani (kumpulaln puisi oleh Taufik Ismail) dan Bila Malam Bertambah Malam (Putu Wijaya).

8. Angkatan 1980-1990an

Isi karya sastra pada setiap masa pasti berbeda. Begitu juga karya sastra yang muncul pasa masa 1980 hingga 1990an. Karya pada angkatan ini berisi tentang roman percintaan dan lebih menonjolkan tentang wanita. Beberapa contoh karya pada masa ini adalah “Namaku Hiroko” (NH Dini).

9. Angkatan Reformasi

Munculnya angkatan reformasi ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel yang bertema sosial-politik, dan seputar reformasi. Salahsatu sastrawan pada masa ini adalah Widji Thukul dengan karya-karyanya yang mengkritik pemerintahan dengan tajam.

10. Angkatan 2000-an

Di tahun 2000an penulis novel dan karya sastra lain sudah menjamur. Tema dalam karya sastra di era ini juga semakin luas dan menyentuh. Contoh karya sastra pada masa itu “Ayat-ayat Cinta” (2004), “Laskar Pelangi” (2005).

11. Cybersastra

Karya sastra yang dipublikasikan di dunia maya. Situs sastra Indonesia di dunia maya yang salah satunya adalah duniamaya.com. Selain itu Majalah Horison yang dulu terbit cetak kini hanya tersedia dalam bentuk online yakni Horison Online.

Jenis Sastra

1. Drama

Drama merupakan karya sastra berupa kisah atau cerita yang dipentaskan atau ditampilkan di atas panggung.

Ciri khas drama adalah dialog. Selain itu untuk menerangkan situasi dan tindakan para tokoh, drama memiliki kramagung dalam dialognya.

Namun drama tergolong sebagai karya sastra, jika masih ke dalam bentuk tulisan atau naskah. Tapi, jika sudah dipentaskan, akan menjadi macam karya seni.

2. Prosa

Prosa merupakan karangan bebas yang tergolong ke dalam macam sastra. Karena masih mengandung unsure tulisan indah yang sengaja dibuat dengan berbagai nilai dan pesan yang tersirat di dalam tulisannya.

3. Puisi

Berbeda halnya dengan prosa dan drama. Bahwa puisi lebih cenderung ke tulisan singkat, namun memiliki makna yang sangat mendalam.

Itulah jenis besar karya sastra. Intinya sebuah karya yang bisa dinikmati dengan dibaca termasuk karya sastra.

Lalu apakah cerita bergambar seperti komik atau webtoon termasuk dalam karya sastra?

Menurut Bonnef (1998) seperti yang dikutip oleh Binus, komik juga termasuk ke dalam karya sastra, yaitu sastra bergambar.

Komik adalah cerita bergambar yang juga memiliki unsur-unsur sastra.

Di Indonesia sendiri, sejarah komik dapat ditemukan pada candi dan wayang. Seiring waktu, media gambar informatif tersebut juga berubah.

Adapun komik termasuk ke dalam jenis sastra dikarenakan terdapat unsur intrinsik dan ekstrinsik, seperti tema dan penokohan yang dipengaruhi oleh kebudayaan dan ideologi sekitar, yang juga ada di karya sastra seperti novel dan lainnya.

Fungsi Sastra

Sastra memiliki beberapa fungsi dalam kehidupan masyarakat. Selain menghibur, memperluas wawasan juga untuk menajamkan nurani, berempati kepada orang lain dan sebagainya.
Adapun fungsi sastra dalam kehidupan adalah.

1. Fungsi Reaktif

Fungsi reaktif berarti sastra itu dapat menghibur bagi pembaca dan penikmatnya. Misalnya kisah-kisah lucu dalam sebuah novel membuat pembaca terhibur. Atau kisah inspiratif dalam sebuah karya sastra membuat pembaca lebih berempati.

2. Fungsi Didaktif

Sastra juga bersifat mendidik atau mengedukasi pembaca.

Karena di dalam karya sastra terdapat berbagai unsur dan nilai yang bisa kita petik juga sesuai dalam kehidupan sehari-hari.

3. Fungsi Estetis

Sastra adalah tulisan indah. Sehingga, bisa dikatakan bahwa sastra memiliki nilai estetika yang mana dapat dinikmati oleh penikmat dan pembaca.

Manfaat Sastra

Karya-karya sastra yang ditulis dapat memberikan efek kepada pembacanya. Bahkan sastra bisa mengubah kebiasaan suatu kaum.

Pada masanya karya sastra bahkan sampai mejadi hal yang menakutkan atau mengancam pemerintahan. Sampai-sampai sastrawannya diasingkan. Sebut saja contohnya, Pramoedya Ananta Thoer dan Widji Thukul.

Selain itu, sastra adalah cermin kehidupan, karena karya sastra dibuat sebagai imitasi kehidupan yang sebenarnya. Sehingga pembaca dapat memperoleh manfaat atau hikmah dari suatu kisah.

Selain itu dengan mendalami sastra, para pembaca dapat menajamkan nurani dan rasa kemanusiaan lewat kisah yang dibacanya.

Sebab ada banyak sekali penulis yang menyelipkan pesan-pesan moral di dalam karyanya.

Demikian ulasan mengenai sastra termasuk jenis, fungsi, dan sejarahnya. Semoga bermanfaat. (Nur Fatimah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *