Pemadaman Listrik Massal, Pengguna AC di Sumut Bisa Rugi Hingga Rp28 Milyar

Pelayananpublik.id- Pemadaman massal (blackout) yang terjadi di wilayah Sumut, maupun Sumatera pada umumnya, sempat melumpuhkan aktifitas ekonomi masyarakat. Dan sudah pasti memicu kerugian pada pelaku usaha atau masyarakat pada umumnya.

Mulai dari kerusakan barang-barang elektronik, kemacetan lalu lintas yang ditimbulkan, biaya tambahan untuk mencari sumber listrik alternatif (genset), pembelian BBM, penurunan produktifitas dunia usaha, dan masih banyak lagi yang bisa dikalkulasikan akibat kerugian yang timbul.

Pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin mengatakan pendekatan perhitungan kerugian bisa dilakukan dengan pendekatan regulasi dan kompensasi PLN, pendekatan value of lost load (VOLL), pendekatan fungsi kerusakan pelanggan, hingga pendekatan klaim kerugian actual.

“Masing-masing pendekatan tentunya akan menghasilkan estimasi kerugian yang berbeda-beda. Artinya tidak akan ada hasil perhitungan kerugian absolut,” ungkapnya.

Jadi kalau menghitung berapa total kerugian akibat terjadinya blackout, tentunya sangat tergantung bagaimana nantinya kerugian tersebut dihitung dan berdasarkan metode masana dan siapa yang melakukan perhitungan.

“Namun sebagai ilustrasinya begini, misalkan kita menggunakan pendekatan value of lost load, yang merupakan hasil perhitungan dari utilitas, kenyamanan serta pendapatan yang hilang menjadi nilai uang,” katanya.

Dengan menggunakan data jumlah rumah tangga di Sumatera Utara saja, dimana ada sekitar 3.5 juta rumah tangga (data BPS), dan sekitar 20%nya adalah pengguna AC, serta nilai taksiran VOLL untuk 1 Kwh berada dalam rentang 10 ribu hingga 40 ribu Rupiah, dan dengan asumsi satu rumah tangga menggunakan AC 1 PK saja, maka kerugian yang dihasilkan dari pengguna AC di Sumut itu berkisar 7 hingga 28 milyar Rupiah.

Itu hanya kerugian dari pengguna AC saja, dengan asumsi AC tersebut digunakan sekitar 1 jam 47 menit. Jika penggunaannya lebih dari itu maka perhitungan akan semakin besar. Terlebih lagi jika rumah tangga pengguna AC lebih dari 1 PK. Pendekatan berbeda juga bisa dihitung jika masyarakat harus menginap di hotel karena listrik padam.

“Sehingga kalau kita menghitung total kerugian yang dialami akibat pemadaman listrik ini tentunya beragam. Karena pemadaman yang terjadi belakangan ini tidak serentak, tidak seperti hari jumat malam yang terlihat merata di wilayah Sumatera. Pendekatan perhitungan kerugian bisa mencapai ratusan triliun dengan pemadaman tersebut,” ujarnya.

Tetapi hal yang paling mudah menghitung kerugian yang dialami masyarakat akibat tidak teraliri listrik, PLN akan dengan mudah menghitung berapa Kwh yang pada akhirnya tidak disalurkan ke masyarakat akibat pemadaman massal.

“Langsung hitung berapa harga per Kwh nya, disitu kita bisa menghitung juga berapa banyak output barang dan jasa yang hilang per satu unit penggunaan energi listrik,” pungkasnya. (*)