Pelayananpublik.id- Perang antara AS-Israel dengan Iran sejauh ini belum dipastikan akan mengganggu kinerja ekspor Sumut di tahun 2026 ini.
Sejumlah pelaku usaha yang bergerak di industri kelapa sawit baik di hulu dan hilir masih bersikap wait and see.
“Jika melihat kinerja ekspor Sumut di tahun 2024 ke 2025 secara kumulatif, dilihat dari kuantitas barang naik sebanyak 0.18%, namun jika dilihat dari sisi nominal (FOB) naik sebanyak 15%,” kata pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin, Kamis (5/3/2026).
Jika didalami lagi, kata dia, kinerja ekspor Sumut dominan merupakan produk turunan dari minyak kelapa sawit.
Dan jika dilihat dari perubahan harganya selama dua tahun terakhir relatif tidak banyak mengalami perubahan. Namun jika nominal ekspor Sumut dihitung dengan nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar, maka terlihat dengan jelas angkanya akan membukukan kenaikan yang lumayan besar.
“Sehingga secara rill kinerja ekspor Sumut tidak banyak berubah, walaupun dari sisi nominal alami penguatan yang cukup signifikan. Dan perang antara Iran dengan AS/Israel saat ini menyisahkan kekuatiran bahwa kinerja ekspor Sumut rawan alami koreksi secara kuantitas,” katanya.
Meskipun dari sisi nominal kinerjanya akan terlihat positif karena tren penguatan US Dolar yang berlanjut.
“Sejak perang antara Iran dengan AS/Israel dimulai pekan lalu. Sejumlah pelaku usaha unggulan sektor kelapa sawit di Sumut masih memilih wait and see terlebih dahulu, sebelum memberikan proyeksi kinerja usahanya setelah perang pcah. Meskipun ada sejumlah kekuatiran yang bisa saja menekan kinerja industri kelapa sawit, namun menurut pelaku usaha dampaknya baru bisa dianalisis setelah perang berlangsung setidaknya 1 atau 2 bulan mendatang,” ujar dia lagi.
Gunawan mengatakan memang ada ancaman besar terhadap kinerja sektor industri pengolahan kelapa sawit dalam waktu dekat nanti. Terlebih kebijakan penggunaan manadatory Bio Diesel B50 ditunda. Dan pergerakan harga CPO nyaris tidak memiliki dorongan untuk menguat, karena pasar global tetap akan dibanjiri supply, sementara perang bisa saja memicu terjadinya penurunan demand atau permintaan global.
Menurut dia, proyeksi kinerja ekspor Sumut untuk saat ini masih menanti bagaimana eskalasi perang dan durasinya akan berlangsung.
“Meskipun sejauh ini dinilai relatif aman, akan tetapi persepsi pelaku usaha bisa saja berubah nantinya. Saya menilai dalam 3 bulan mendatang pelaku usaha industri pengolahan sawit berpeluang memiliki pandangan baru terkait dnegan kinerja usahanya,” katanya.