Dihantui Perang Iran-AS, Inflasi Sumut Maret 2026 Diprediksi Berfokus ke Daging Ayam dan Emas

Pelayananpublik.id- Sumut merealisasikan inflasi sebesar 0.22% pada bulan Februari kemarin secara bulanan atau month to month. Tomat, cabai merah, daging ayam, emas perhiasan, udang basah, daging sapi dan sejumlah komoditas hortikultura lainnya.

“Dan seperti perkiraan sebelumnya, gunung sitoli masih akan mencatatkan deflasi pada bulan Februari, setelah laju kenaikan inflasi yang tinggi pada bulan Desember 2025,” ujar pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin, Selasa (3/3/2026).

Dan dibulan maret ini, kata Gunawan Sumut diperkirakan akan mengalami inflasi pada komoditas daging ayam, dan harga emas. Dan berpeluang mencetak deflasi dari komoditas hortikultura seperti cabai rawit, cabai hijau, cabai merah, serta minyak goreng.

“Pada dasarnya saya melihat Sumut berpeluang untuk cenderung mencetak deflasi dibandingkan dengan inflasi di bulan ini. Namun, perang Iran dengan AS bisa merubah perhitungan saya. Karena perang tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah kebutuhan pangan seperti kedelai yang berpeluang memicu kenaikan harga tahu dan tempe, serta gandum yang berpeluang memicu kenaikan pada produk olehan tepung seperti roti, biskuit maupun kue olahan lainnya,” jelasnya.

Ia memprediksi daging ayam dan emas akan berkontirbusi pada pembentukan inflasi di bulan ini.

“Saya menghitung pasokan daging ayam memang alami kenaikan jelang idul fitri nanti. Meskipun disisi lainnya saya mengkuatirkan konsumsi yang bisa saja melompat diatas jumlah pasokan yang ada,” katanya.

Gunawan mengatakan saat ini harga daging ayam di kota medan terpantau berada dikisaran Rp42.500 hingga Rp46.000 mengacu PIHPS Kota Medan.

Selain itu, kata dia, harga emas berpeluang untuk bergerak naik dan bertahan mahal selama bulan maret ini. Pemicunya adalah peralihan investasi ke instrumen save haven seperti emas, yang membuat harganya alami kenaikan dikisaran $5.300 hingga $5.400 per ons sejauh ini. Harga emas perhiasan diproyeksikan naik dalam waktu dekat seiring dengan memburuknya tensi geopolitik global.

Saat ini banyak pelaku usaha yang mulai mengkhawatirkan dampak perang terhadap pembentukan harga kebutuhan di lapangan. Meskipun sejauh ini perang belum memicu kenaikan harga BBM di tanah air, namun sejumlah harga kebutuhan pangan impor sudah menunjukan kenaikan harga. Harga gandum berada dikisaran $5.75 per bushel, dan harga kacang kedelai dikisaran $11.5 per bushel.

“Dan tidak berhenti disitu, biaya transportasi khususnya laut berpeluang alami lonjakan. Ditutupnya selat hormuz karena perang berpeluang mendorong kenaikan biaya asuransi. Termasuk juga berpotensi meningkatkan biaya jasa distribusi barang di perusahaan pelayaran karena ada potensi gangguan supply kontainer maupun kapal. Walaupun belum bisa dipastikan apakah gangguan perang ini akan mengganggu jasa layanan Lolo (lift on – lift off) perusahaan depo kontainer di pelabuhan,” katanya. (*)