Pelayananpublik.id- Perdagangan saham di awal pekan menunjukkan penurunan harga emas. Selain itu IHSG dibuka melemah di level 8.306 dan terus bergerak melemah cukup signifikan, Senin (2/2/2026).
Sedangkan harga emas terpantau jatuh ke level $4711 per ons troy.
Pemgamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan kinerja pasar saham pada perdagangan pagi ini akan merspon pengunduran diri sejumlah pejabat OJK.
“Karena pengunduran diri pejabat OJK terjadi pada perdagangan sore akhir pekan kemarin, dimana pasar saham dudah menutup sesi perdagangannya,” ujar Gunawan.
Ia mengatakan lelaku pasar masih menanti sikap pemerintah untuk merespon keputusan MSCI (Morgan Stanley Capital Internasional), serta diharapkan segera menentuka pejabat pengganti OJK secara definitif.
Selanjutnya, kata Gunawan, ada beberapa agenda penting tanah air pada perdagangan hari ini. Salah satunya adalah rilis data S&P Global Manufacturing Index (PMI) bulan Januari Indonesia yang membukukan kenaikan menjadi 52.6.
“Selanjutnya akan dirilis data inflasi berikut data neraca perdagangan tanah air. Secara umum Indonesia diproyeksikan akan mengalami inflasi dikisaran 3.7% secara tahunan (y-o-y),” jelasnya.
Serta untuk data neraca perdagangan Indonesia diproyeksikan akan tetap mengalami surplus, dengan potensi penurunan tipis dari posisi bulan Desember di angka $2.65 milyar.
Sementara itu mata uang Rupiah ditransaksikan cukup stabil dengan kecenderungan menguat di kisaran level 16,770 per US Dolar pada sesi perdagangan pagi ini. Kinerja mata uang Rupiah stabil ditengah membaiknya kinerja USD Index di level 97.07, dan stabilnya imbal hasil US Treasury 10 tahun di level 4.253%.
Sementara itu, Presiden AS berencana mengajukan Kevin Warsh sebagai Gubernur Bank Sentral AS pada hari jumat pekan lalu.
“Rencana tersebut dinilai sebagai pemicu koreksi harga emas belakangan ini, dan ditransaksikan dikisaran harga $4.711 per ons troy, atau sekitar 2.55 juta per gramnya. Pasar menilai pencalonan gubernur Bank Sentral AS yang baru lebih cenderung bersikap hawkish terhadap kebijakan moneter AS kedepan,” pungkasnya. (*)