Apa Itu Tipografi, Fungsi, Elemen, Klasifikasi Hingga Contohnya

Pelayananpublik.id- Dalam dunia desain grafis, istilah tipografi bukanlah hal yang asing lagi. Senang desainer grafis tentu harus menguasai cara menggunakannya untuk menghasilkan desain dengan huruf yang indah.

Biasanya, tipografi tidak hanya dipakai untuk desainer saja, melainkan juga untuk sastra ataupun seni murni.

Sastra memaki tipografi puisi bertujuan membuat susunan katanya semakin indah dan enak dibaca.

Dari itu, tipografi di tulisan puisi umumnya disajikan dalam bentuk yang beragam dengan tujuan yang berbeda-beda. Sedangkan tipografi pada seni murni adalah untuk mengubah huruf menjadi sebuah bentuk karya.

Nah, sebelum membahas lebih lanjut, mari simak apa itu pengertian Tipografi.

Pengertian Tipografi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tipografi adalah ilmu cetak atau seni percetakan.

Selain itu, pengertian tipografi adalah sebuah teknik dalam mengatur huruf dan teks agar menarik serta mudah dimengerti oleh pembaca, baik cetak maupun digital.

Sementara itu, Menurut laman Career Foundry, tipografi atau typography adalah suatu teknik seni mengatur huruf dan teks dalam ruang yang tersedia.

Nah, hasil typography itu sendiri adalah visual yang menarik sehingga enak dilihat dan dibaca oleh orang.

Dalam tipografi, umumnya desainer akan melibatkan font, penampilan, dan struktur yang bagus dengan tujuan memperoleh emosi tertentu sehingga dapat menyampaikan pesan kepada pembaca.

Atau bisa dikatakan typography adalah sebuah teknik yang dapat menghidupkan teks.

Fungsi Tipografi

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, tipografi berguna untuk menghidupkan teks. Nah lebih spesifik lagi, berikut ini merupakan beberapa fungsi tipografi.

1. Membuat Desain Lebih Menarik

Dengan memakai tipografi yang tepat, graphic designer dapat menarik perhatian customer atau pengguna lewat font-font serta penempatan tulisan dan visual yang bagus.

Para desainer grafis harus menguasai ini agar karyanya bisa lebih menarik.

2. Menguatkan Nilai Brand

Jika mendesain sebuah brand, tipografi adalah hal yang vital.

Dikutip dari Design Hill, tipografi penting karena dapat memberikan value dan tone terhadap sebuah brand.

Itu karena masing-masing jenis font memiliki kekuatan untuk mewakili bisnis dengan cara yang berbeda-beda.

Misalnya tipografi jenis sans–serif. Tipografi ini biasanya digunakan untuk memberikan desain yang sederhana dan mudah dibaca oleh orang. Oleh karena itu, bisa dibilang jenis ini adalah tipografi yang modern.

Selain itu, jenis serif umumnya dianggap sebagai tipografi yang konvensional dan kuno. Akan tetapi, jenis ini juga mudah dibaca.

3. Memudahkan Pembacaan

Tipografi juga berfungsi untuk memudahkan pengguna membaca tulisan pada desain.

Tak hanya gaya, tulisan dalam desain juga harus bisa dibaca dengan mudah oleh pengguna.

Jadi pilihan font yang salah bisa membuat pembaca jadi rumit sehingga tidak tertarik untuk melihatnya lebih lanjut.

Saat ini, tipografi menjadi salah satu teknik yang harus dikuasai oleh graphic designer.

Sebab, saat ini banyak font-font yang bermunculan. Hal ini memungkinkan bagi desainer untuk mencari font yang tepat dalam membuat sebuah desain tertentu, seperti pamflet, logo, dan sebagainya.

Dengan tipografi, visual yang disajikan oleh desainer seakan-akan berbicara kepada orang yang melihatnya.

Elemen Tipografi

Ada 22 elemen dari tipografi yang begitu penting untuk diketahui oleh para graphic designer yakni:

– Lengan, yakni dari huruf yang memanjang ke atas, baik lurus atau melengkung, dengan satu ujung terpasang dan satu bebas, seperti versi huruf besar atau kecil dari huruf “V.”

– Ascenders, yakni huruf kecil yang memanjang di atas tinggi x, seperti huruf “h”, “f”, atau “l”.

– Bar atau bilah, yakni garis horizontal sebuah huruf, seperti dalam “f” atau “e”.

– Mangkuk atau bowl, yakni garis melengkung dari karakter yang menciptakan ruang tertutup seperti “O” dan “o,” serta “D” dan “d”.

– Cap height yakni garis imajiner yang menandai ketinggian huruf besar dan datar seperti “M”.

– Counter, yakni ruang negatif yang sebagian atau seluruhnya tertutup di dalam huruf-huruf tertentu.

– Crossbar, yakni coretan horizontal dari sebuah huruf yang menghubungkan dua coretan lainnya, seperti dengan “A” atau “H”.

– Descenders, yakni garis huruf yang berada di bawah baseline seperti yang terlihat pada huruf “Q”, “y,” “j,” dan “g”.

– Ear atau telinga yakni garis kecil yang menonjol dari sisi huruf kecil “g”.

– Finials, yakni ujung melengkung atau meruncing yang terlihat pada huruf seperti “e” dan “c”.

– Kaki, yakni bagian dari huruf yang memanjang ke atas, baik lurus atau melengkung, dengan satu ujung terpasang dan satu bebas, seperti bagian bawah huruf “K”.

– Serif, yakni goresan yang menggantung pada goresan utama sebagai aksen gaya huruf dalam font serif.

– Bahu, yakni lengkungan atau lengkungan ke bawah yang terlihat dalam huruf seperti “h”, “m”, dan “n”.

– Spine, yakni garis melengkung utama di “S” dan “s”.

– Spur, yakni proyeksi kecil terlihat menonjol dari coretan utama, sering terlihat pada garis horizontal huruf besar “G”.

– Stem yakni goresan vertikal utama dari sebuah huruf seperti “K”, atau goresan diagonal pertama dari sebuah huruf tanpa vertikal seperti “A”.

– Stroke, garis lurus atau melengkung yang digunakan untuk membuat representasi visual dari sebuah huruf.

– Ekor atau tail, merujuk bagian turunan melengkung dari huruf seperti “Q,” “j,” “y,” dan “g”.

– Terminal, mengacu pada akhir garis pada huruf yang tidak memiliki serif, biasanya terlihat di banyak font sans-serif.

– Tittle atau titik di atas huruf kecil “i” atau “j”.

– X-height mengacu pada jarak antara garis dasar dan garis median untuk teks huruf kecil.

Demikian ulasan mengenai apa itu tipografi, mulai dari pengertian, fungsi, hingga elemennya. Semoga bermanfaat. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.