Kisah Pendakian Panjang Sangkala ke Gunung Leuser, Tanpa Pemandu Hingga Logistik Hilang

Tak terdengar kesan letih dari suara di ujung sambungan telepon ketika menanyakan kabar mengenai pendakian Gunung Leuser. Suara lantang seorang perempuan dengan latar keriuhan obrolan riang di belakangnya menyiratkan suasana kegembiraan.

Begitulah kesan yang menonjol ketika berlangsung pembicaraan yang dilakukan Ketua Kelompok Penggemar Kegiatan di Alam Bebas Sangkala, Hafifuddin Arif, dengan Rahmadani Siagian melalui sambungan telepon.

Inang Dani, begitu perempuan tak lagi muda ini akrab disapa sedang berada di Lodge Kedah Mr. Jali, di Dusun Penosan Blang Kejeren, baru saja menuntaskan pendakian panjang selama 13 hari menyusuri 7 puncak gunung di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Arif mengatakan, bagi Inang Dani (56 tahun), Yani Lim (46 tahun) dan Alin (36 tahun) pendakian ini dilakukan bersama 4 anggota Sangkala. Pendakian ini dilakukan dengan seizin Balai Taman nasional Gunung Leuser (BBNTGL) tanpa menggunakan jasa pemandu (guide/ranger).

“Karena Sangkala sudah beberapa kali terlibat dalam operasi SAR di kawasan taman nasional,” kata Arif, Jumat (27/12).

Tiga perempuan pendaki itu didampingi Sutrisno Sitorus, Evandi Muslim Sitepu, Juandi Barutu, dan Malikul Yahya, adalah anggota-anggota Sangkala yang memang sudah pernah pula melakukan pendakian Gunung Leuser, juga tanpa pemandu.

Persis mengulang sejarah pendakian yang dilakukan para pendiri Sangkala pada 32 tahun yang lalu.

Berdasarkan informasi diperoleh Arif dari Sutrisno, berbeda pada pendakian sebelumnya yang dilakukan dengan guyuran hujan setiap hari. Maka kali ini pendakian dilakukan di bawah terik mentari. Hanya 2 hari hujan turun dan terganggu oleh kabut tebal.

“Ada tantangan yang berbeda dan menjadi pelajaran berharga untuk pendakian panjang gunung-gunung di hutan tropis,” ujarnya.

Diungkapkannya, rasa bosan dalam pendakian ini diatasi dengan bernyanyi riang bagaikan kontes suara sumbang. Evan yang pemalu justeru bernyanyi paling keras. Sementara Alin malah sampai berjingkrak dan Juan menimpali dengan intonasi suara seperti laiknya koor paduan suara kidung Natal.

“Rindu keluarga coba diobati dengan bercanda-ria melalui saling ejek tentang kelakuan-kelakuan yang dianggap lucu dan menggelikan,” sebutnya.

Satu-satunya masalah yang dianggap sedikit mengganggu adalah ketika harus mengatur ulang paket-paket makanan selama pendakian. Hal ini harus dilakukan, karena 19 paket makanan dan perlengkapan hilang raib di hari pertama pendakian. Pendakian ditunda karena harus melapor ke polisi sektor dan menunggu dukungan logistik tambahan dari Medan.

Dukungan logistik pengganti dari Medan, mencerminkan kuatnya rasa persaudaraan yang menjadi kunci penting berkegiatan. Keperluan menggunakan tenda ketika bermalam untuk mengatasi cuaca dingin selama pendakian diatasi dengan hanya mendirikan bivak dari fly-sheet.

Hilangnya beberapa potong pakaian diatasi dengan berbagai pakaian dan tidak mengganti pakaian yang digunakan untuk berjalan selama pendakian berlangsung. Pakaian hanya diganti ketika beristirahat malam. Esoknya, pakaian yang kotor, basah dan bau keringat dipakai kembali untuk melakukan pendakian.

“Keadaan ini justeru menjadi pelecut semangat untuk dapat menuntaskan pendakian dengan tetap berpegang pada prinsip perjalanan Sangkala, yaitu aman, lancar, dan berhasil, namun senantiasa harus rendah hati,” terang Arif.

Yani Lim, perempuan berusia 46 tahun yang selama ini bermukim di Malaysia dengan suara bergetar diujung telepon mengungkapkan perasaannya bahwa pikirannya dipengaruhi dengan kuat oleh bait terakhir mars Sangkala, yaitu, “Bunuh rasa sakit, bunuh rasa letih. Tak peduli segala derita duka. Aku terus maju, aku terus maju. Tetap tangguh Sangkala.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.