Pelayananpublik.id- Harga minyak mentah dunia kembali alami kenaikan ditengah aksi saling serang antara Iran dengan AS di selat hormuz.
Pernyataan Presiden AS terkait dengan proposal gencatan senjata yang sedang dalam kondisi kritis memicu kekhawatiran yang lebih besar terhadap potensi gejolak pasar keuangan yang bisa saja terjadi dalam waktu dekat.
Hal itu dikatakan ekonom Sumut, Gunawan Benjamin, Selasa (12/5/2026).
Harga minyak mentah dunia saat ini ditransaksikan dalam rentang $99 hingga $105 per barel pada perdagangan pagi ini. Harga minyak mentah tersebut terpantau sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan harga pada perdagangan sebelumnya.
Seiring dengan kenaikan harga minyak, mata uang Rupiah terpantau alami pelemahan dikisaran level 17.505 per US Dolar.
“Rupiah kembali mencatatkan posisi terendahnya sepanjang sejarah yang berpeluang mendorong pelemahan pada kinerja IHSG,” kata Gunawan.
Ia menjelaskan di sesi pembukaan perdagangan IHSG sempat dibuka menguat di level 6.946, bahkan sempat menguat hingga 1% lebih. Namun saat ini IHSG justru bergerak sebaliknya dengan membukukan pelemahan lebih dari 1%.
“Tekanan pada Rupiah turut menyeret pelemahan IHSG pada pedagangan hari ini. Sementara itu pelaku pasar masih harap harap cemas dengan hasil rebalancing indeks MSCI (morgan stanley capital international). Kabar dari MSCI akan sangat menentukan kinerja pasar keuangan dalam waktu dekat,” ungkapnya.
Terpisah harga emas dunia ditransaksikan menguat di level $4.730 per ons troy atau sekitar Rp2.67 juta per gram.
“Kenaikan harga emas lebih dikarenakan oleh aktifitas beli emas yang dilakukan oleh sejumlah Bank Sentral seperti Bank Sentral China (PBoC),” pungkasnya. (*)