Perang Kian Memburuk, IHSG Menguat Sementara Rupiah dan Emas Stabil

Pelayananpublik.id- Perang antara Iran dengan AS dan Israel belakangan eskalasinya meningkat dan meluas ke negara teluk lainnya. Pasar keuangan masih berpeluang alami tekanan lanjutan.

Sejumlah data penting tanah air yang dirilis seperti inflasi dan surplus neraca perdagangan tanah air, ditambah dengan sejumlah data ekonomi penting lainnya dari eksternal seperti membaiknya data manufaktur AS sejauh ini belum menjadi katalis positif bagi pasar saham di Asia.

Hal ini dikatakan pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin, Selasa (3/3/2026).

“Mayoritas bursa saham di Asia masih ditransaksikan di zona merah. IHSG masih mampu membukukan penguatan di level 8.059 pada sesi pembukaan perdagangan. Meskipun dibuka menguat, pelaku pasar diproyeksikan akan terus mewaspaai pelemahan bursa saham di Asia yang bepeluang membuat IHSG ikut terseret arus pelemahan,” jelasnya.

Sementara itu, lanjut dia, kinerja mata uang Rupiah pada perdagangan hari ini masih relatif stabil dikisaran level 16.855 per US Dolar.

Mata uang US Dolar sejauh ini masih alami penguatan terhadap sejumlah mata uang di Asia. Tekanan yang dialami mata uang di Asia juga berpeluang meluas dan menyeret pelemahan pada Rupiah.

“Pasar keuangan di kawasan Asia masih dihantui tekanan, walaupun sentimen data ekonomi cukup positif,” katanya.

Disisi lain, harga emas dunia masih bertahan diatas level $5.300 atau dikisaran harga $5.348 per ons troy pada sesi perdagangan pagi. Harga emas dunia ditransaksikan dikisaran harga 2.9 juta per gram sejauh ini. Potensi penguatan harga emas masih terbuka seiring dengan eskalasi perang yang meningkat. Dan diperkuat dengan himbauan AS agar warganya meninggalkan sejumlah negara di timur tengah.

“Himbauan tersebut mengisyaratkan bahwa perang masih akan berkecamuk. Pasar keuangan dan pasar komoditas akan terus mencari titik keseimbangan baru ditengah memburuknya tensi geopolitik saat ini,” katanya. (*)