Tensi Geopolitik Memburuk, IHSG dan Rupiah Alami Tekanan

Pelayananpublik.id- Data initial jobless claims AS membaik dengan merealisasikan angka yang lebih rendah dibandingkan ekspektasi. Rilis data klam pengangguran AS sebesar 206 ribu, lebih rendah dari proyeksi sebanyak 223 ribu.

Gunawan Benjamin, seorang pengamat ekonomi Sumut mengatakan membaiknya data tersebut tidak lantas membuat kinerja pasar saham di Asia alami penguatan.

“Justru bursa saham di Asia ditransaksikan melemah akibat memburuknya tensi geopolitik antara AS dan Iran,” katanya, Jumat (20/2/2026)

Ia mengatakan belakangan AS mengancam Iran akan menggunakan kekuatan milter yang kian memperburuk ketegangan antara kedua pihak. Ketegangan tersebut telah menyulut kenaikan harga minyak, dan menekan kinerja pasar saham global.

“IHSG pada sesi pembukaan perdagangan hari ini menguat di level 8.300. Namun sejauh ini IHSG berbalik arah dan ditransaksikan di zona merah,” ungkapnya.

Ia menyebut kinerja IHSG mulai terseret arus pelemahan bursa saham di Asia, yang bepeluang membuat IHSG ditransaksikan dalam rentang 8.230 hingga 8.330.

Sementara itu mata uang Rupiah ditransaksikan melemah ke level 16.885 per US Dolar. Harga minyak mentah jenis WTI terpantau begerak naik ke level $66.7, sejauh ini membebani kinerja mata uang Rupiah.

“Tekanan Rupiah juga datang dari kenaikan USD Index yang sejauh ini berada di level 97.96,” katanya.

Sementara itu harga emas masih berkonsolidasi dikisaran harga $5.000 per ons troy, atau sekitar 2.7 juta per gramnya.

“Harga emas diuntungkan dengan tensi geopolitik yang memburuk. Meskipun sejauh ini harga emas masih dibayangi kebijakan The Fed yang sejauh ini lebih condong menahan bunga acuan,” pungkasnya. (*)