Pelayananpublik.id- Setelah bencana besar melanda pada kuartal keempat 2025, kondisi ekonomi Sumut dikuartal pertama tahun 2026 diproyeksikan akan tumbuh terbatas dalam rentang 0.18% hingga 0.27% secara kuartalan (q-to-q).
Hal itu dikatakan pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin, Kamis (19/2/2026).
“Jika berkaca pada kinerja ekonomi Sumut di kuartal pertama tahun 2024 yang alami kontraksi sebesar 0.59% (q-to-q), dan di kuartal pertama tahun 2025 juga terkontraksi 0.99% secara kuartalan, maka tren kontraksi tersebut berpeluang terputus di kuartal pertama tahun 2026 ini,” kata Gunawan.
Ia mengatakan beberapa yang menjadi pendorong potensi pertumbuhan ekonomi dikuartal pertama diantaranya adalah sejumlah sektor usaha berpeluang alami pemulihan pasca bencana.
“Sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, hingga sektor transportasi dan pergudangan berpeluang membaik kinerjanya di kuartal ini. Selanjutnya adanya kemungkinan pemulihan yang didorong belanja masyarakat selama Ramadhan-Idul Fitri,”
Untuk kinerja sektor industri pengolahan, hasil perhitungan saya menunjukan bahwa sejumlah industri pengolahan khususnya kelapa sawit terpantau alami pemulihan.
“Ada potensi kenaikan pengolahan bahan mentah ke bahan baku sekitar 3% hingga bulan Februari ini. Meskipun di sejumlah industri pengolahan bahan baku ke produk menengah dan akhir sejauh ini masih relatif stagnan dengan kecenderungan turun,” jelasnya.
Sementara, lanjut Gunawan, untuk industri pengolahan karet sejauh ini menunjukan adanya penurunan kapasitas penggunaan bahan baku mentah. Namun untuk sejumlah sektor usaha lainnya diproyeksikan akan mengalami pemulihan seiring dengan adanya perayaan hari besar di kuartal pertama tahun 2026 ini. Ada beberapa tantangan yang dihadapi sejumlah sektor usaha saat menapaki tahun 2026 ini.
Salah satunya adalah potensi tekanan kinerja ekspor, ditengah melemahnya harga komoditas pesaing produk minyak kelapa sawit seperti minyak kedelai.
Tidak berhenti disitu, penurunan pada harga komoditas pesaing minyak sawit berpeluang menekan permintaan (ekspor) minyak kelapa sawit itu sendiri. Belum lagi ada tensi geopolitik yang bisa mengubah peta perdagangan.
“Ada beberapa tantangan usaha yang akan dihadapi Sumut selama tahun 2026 ini. Namun saya menilai tantangan tersebut tidak sepenuhnya akan dirasakan di awal tahun 2026. Kewaspadaan perlu diintensifkan saat memasuki kuartal kedua hingga kuartal keempat nantinya. Karena program MBG memang akan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi. Tetapi ancaman besar bagi sejumlah sektor usaha tengah terpampang jelas di depan mata,” terangnya. (*)