Penundaan Penerapan B50 Buat Pertumbuhan Ekonomi Sumut Tidak Maksimal

Pelayananpublik.id- Penerapan B50 (Biodiesel) ditunda oleh pemerintah di tahun 2026, seraya melanjutkan program B40 sebelumnya. Ada plus minus dari kebijakan ini, dimana nilai plusnya adalah kinerja ekspor masih mampu dipertahankan. Yang tentunya akan menjadi penyangga bagi mata uang Rupiah, setelah alami pelemahan terhadap US Dolar dalam beberapa hari terakhir.

Demikian dikatakan pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin, Selasa (20/1/2026).

“Seperti yang kita ketahui, mata uang Rupiah sejauh ini alami pelemahan, mendekati angka 17 ribu per US Dolar. Sentimen eksternal ditambah dengan defisit APBN yang berlanjut ditahun ini, menjadi sentimen negatif bagi kinerja Rupiah. Dan penundaan penerapan B50 tentunya membuka jalan bagi kinerja ekspor dari komoditas minyak kelapa sawit, karena serapan CPO lokal tidak alami peningkatan signifikan,” jelasnya.

Di sisi lain, kata dia, dampak jangka panjang dari kebijakan tersebut justru bisa membuat ketergantungan impor pada bahan bakar tetap tinggi. Jadi memang posisinya cukup dilematis disini.

Terpisah, Gunawan menyebut kebijakan tersebut nantinya membuat harga CPO dunia akan lebih banyak di setir dari sisi eksternal. Seperti demand di negara lain serta volatilitas harga komoditas pesaing minyak kelapa sawit.

Berbeda jika permintaan domestik digenjot dan secara otomatis akan menjadi motor pembentukan harga CPO dunia. Sehingga penundaan penerapan B50 kurang begitu menguntungkan bagi petani sawit. Sementara itu kebijakan penundaan tersebut nantinya akan melemahkan kontribusi sawit terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumut.

“Kontribusi investasi dalam pertumbuhan ekonomi Sumut menjadi tidak maksimal. Hal ini dikarenakan oleh penundaan penerapan B50. Meskipun dari sisi ekspor akan terpantau stabil. Dimana kinerja ekspor minyak kelapa sawit diproyeksikan masih akan tumbuh moderat 5% di tahun 2025. Ancaman geopolitik serta perlambatan ekonomi disisi lain justru bisa menekan kinerja ekspor di bawah 5% nantinya,” katanya.

Sejauh ini mitra dagang Sumut yakni China terpantau masih menunjukan ada potensi peningkatan demand. Namun India yang juga menjadi konsumen besar minyak sawit Sumut, kebutuhannya masih sangat volatile dan peningkatan demandnya bersifat musiman. Dan penundaan penerapan B50 minyak kelapa sawit menurut hemat saya lebih merugikan petani dari sisi harga.