Apa Itu Child Grooming, Kenali Gejala Korban dan Ciri Pelakunya

Pelayananpublik.id- Fenomena child grooming saat ini kian menjadi sorotan. Istilah ini semakin sering muncul di internet setelah viralnya novel karya Aurelie Moeremans yang menceritakan kisah masa lalunya yang kelam.

Aurelie dalam bukunya menceritakan bagaimana dia terjebak dalam child grooming yang dilakukan pacarnya sejak usia 15 tahun hingga ia dinikahi di usia 18 tahun dengan segala manipulasi.

Lalu apa arti child grooming dan bahayanya bagi anak?

Pengertian Child Grooming

Grooming biasanya istilah yang merujuk pada tindakan merawat. Secara harfiah, grooming berarti perawatan diri atau orang lain. Ini adalah aktivitas yang dilakukan seseorang untuk menjaga kebersihan dan kerapian tubuhnya agar terlihat menarik dan profesional.

Sementara child grooming memiliki arti negatif yakni pelecehan seksual dengan motif grooming.

Disini pelaku bukan langsung melakukan kekerasan seksual tapi melakukan bermacam kebaikan, hal manis, sehingga korban merasa diperhatikan, disayangi, spesial, dihargai. Lalu hingga tiba masanya, ia memanen hasil “grooming”-nya tersebut dan melakukan kejahatan seksual.

Dalam psikologi dan hukum, child grooming adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk membangun ikatan emosional dengan anak atau remaja (dan terkadang orang dewasa yang rentan) guna memanipulasi, mengeksploitasi, atau melecehkan mereka.

​Ini adalah proses yang sistematis dan sering kali memakan waktu lama. Namun justru inilah yang harus paling diwaspadai para orangtua. Anak bisa menyukai orang yang jauh lebih tua dari dirinya untuk alasan tertentu.

Mudahnya, child grooming adalah orang dewasa yang melakukan hubungan pacaran dengan anak yang sangat muda.

Usia anak di bawah umur dianggap bel bisa membedakan mana yang baik dan tidak bagi dirinya. Dengan manipulasi dan sedikit ancaman, mereka bisa terjebak dan dimanfaatkan orang dewasa.

Seseorang dikatakan mengalami child grooming jika pelaku memang punya tujuan khusus untuk memanipulasi pikiran anak sejak kecil. Misalnya, pelaku yang kita sebut dengan istilah “predator” akan menargetkan anak untuk diatur cara pikirnya supaya patuh dan lebih “nurut” dengan arahan dan perintahnya.

Proses ini biasanya tidak sebentar dan kebanyakan korban yang dipilih adalah anak atau remaja yang punya kepercayaan diri rendah atau sedang berselisih dengan keluarganya

Tahapannya biasanya meliputi:

– ​Memilih Korban: Mencari anak yang terlihat kesepian atau butuh perhatian.

– ​Membangun Kepercayaan: Berpura-pura
menjadi sosok teman, kakak, atau guru yang sangat baik.

– ​Memberi Perhatian Berlebih: Memberi hadiah, uang, atau pujian agar korban merasa spesial.
​Isolasi: Mulai menjauhkan korban dari pengaruh orang tua atau teman-temannya.

– ​Normalisasi Kontak: Mulai memperkenalkan topik seksual secara perlahan hingga terjadi pelecehan.

Setelah menemukan anak yang akan menjadi korbannya, pelaku akan memposisikan diri sebagai orang yang paling mengerti perasaan anak hingga muncul empati dan kedekatan. Selanjutnya, pelaku memberikan banyak perhatian, sehingga anak merasa diistimewakan dan pelan-pelan mulai menaruh rasa percaya.

Kalau sudah begini, pelaku lebih mudah melakukan tindak pelecehan seksual atau bentuk eksploitasi lainnya. Terlebih, korban tidak punya kekuatan untuk melawan orang dewasa. Pelaku child grooming akan lebih leluasa mengendalikan korban, termasuk menakut-nakuti atau mengintimidasi apabila korban menyebarluaskan perbuatannya.

Selain menakut-nakuti dan mengintimidasi, pelaku juga bisa memisahkan anak dengan keluarganya. Hal ini biasanya dilakukan dengan menanamkan keyakinan bahwa pelaku lah orang yang paling mengenali Si Anak melebihi orang tuanya.

Ciri Korban Child Grooming

Agar orang tua bisa lebih jeli, berikut ini adalah beberapa tanda anak Anda mungkin mengalami child grooming:

– Anak menjalin hubungan dengan orang dewasa yang usianya jauh lebih tua

– Selalu membicarakan tentang sosok orang dewasa tersebut

– Anak menghabiskan banyak waktu untuk bersama orang dewasa tersebut, hingga abai dengan kewajibannya, misalnya sering bolos sekolah

– Tidak lagi menghabiskan waktu dengan teman-temannya

– Sering menerima banyak hadiah orang dewasa yang sedang dekat dengannya

– Tidak lagi berbagi cerita tentang aktivitasnya sehari-hari dengan Anda

Child grooming bisa berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Bahkan, beberapa pelaku child grooming juga bisa melakukan pendekatan ke keluarga agar tindakan mereka tidak menimbulkan kecurigaan.

Dampak Child Grooming pada Anak

– Sulit tidur (insomnia)

– Sulit konsentrasi di sekolah

– Gangguan kecemasan dan depresi

– Gangguan makan

– Gangguan stres pascatrauma (PTSD)

– Jika grooming berlanjut menjadi kekerasan seksual, korbannya berisiko mengalami penyakit menular seksual.

Ciri Pelaku Child Grooming

Tidak ada salahnya Anda waspada jika ada orang dewasa di sekitar anak Anda menunjukkan perilaku sebagai berikut:

– Sering memberikan hadiah untuk anak dan keluarga Anda

– Menunjukkan ketertarikan berlebihan pada aktivitas yang anak Anda lakukan

– Menawarkan bimbingan belajar atau pengasuhan yang kesannya “tidak wajar” untuk anak Anda

– Melampaui batasan dalam bersosialisasi, misalnya selalu datang ke rumah atau saat ada acara-acara keluarga padahal tidak diundang

– Sering melakukan sentuhan fisik, seperti mengelus kepala, memegang, memeluk, atau memangku anak Anda

– Supaya tidak kebablasan, anak harus diajarkan tentang batasan dalam bersosialisasi dengan orang lain. Sampaikan padanya bahwa ada orang lain yang boleh menyentuh tubuh dan alat kelaminnya.

– Bila ia mengalami hal tidak menyenangkan dari orang dewasa, seperti mendengar lelucon seksual atau dipaksa menonton pornografi, dorong ia untuk memberitahukannya pada Anda.

Demikian ulasan mengenai apa itu child grooming, ciri korban dan pelaku. Semoga bermanfaat. (*)