Pelayananpublik.id- IHSG pada sesi pembukaan perdagangan hari ini menguat di level 9.021. IHSG kembali mampu menembus level psikologis, meskipun sejauh ini berbalik arah dan ditransaksikan dibawah level 9.000.
Penguatan IHSG sejauh ini masih seirama dengan bursa saham di Asia, yang memiliki kecenderungan menguat dan ditransaksikan beragam (mixed).
Pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan Sentimen dari agenda ekonomi yang mempengaruhi kinerja pasar keuangan saat ini adalah rilis data inflasi AS yang masihs esuai dengan ekspektasi pelaku pasr.
Data inflasi bulanan AS pada Desember tercatat sebesar 0.3%, dan 0.7% secara tahunan (y-o-y). Namun untuk inflasi inti AS justru merealisasikan angka sebesar 0.2% secara bulanan (m-t-m), dan sebesar 2.6% secara tahunan (y-o-y).
“Angka inflasi inti AS masih lebih rendah 0.1% dari ekspektasi pasar sebelumnya. Yang memberikan indikasi bahwa pasar masih berspekulasi bahwa The Fed atau Bank Sentral AS berpeluang untuk memangkas bunga acuannya,” katanya Rabu (14/1/2026).
Namun sayang, data inflasi AS masih mendorong penguatan pada kinerja USD Index ke atas level 99.29. Penguatan USD Index memicu penguatan mata uang US Dolar, meskipun sejauh ini Rupiah relatif stabil dikisaran 16.860 per US Dolar.
Sementara itu harga emas dunia ditransaksikan menguat di level $4.618 per ons troy. Harga emas dunia kembali naik setelah rilsi data inflasi AS masih memungkinkan bagi The Fed untuk mengambil kebijakan moneter longgar.
Harga emas dunia saat ini ditransaksikan dikisaran 2.51 juta per gram. Dengan kenaikan harga emas yang sangat signifikan tersebut, memberikan gambaran bahwa baik dari sisi kebijakan moneter ditambah masalah geopolitik masih akan menjadi katalis positif emas di awal tahun 2026 ini. (*)