Pelayananpublik.id- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dituding menjadi pemicu inflasi khususnya di Sumatera Utara.
Hal ini terjadi karena demand untuk kebutuhan pangan alami kenaikan, sementara supply bisa saja terlambat untuk menyesuaikan tingginya permintaan.
Terkait itu, Pengamat Ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan pemerintah tidak seharusnya membiarkan dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dibiarkan untuk melakukan pembelian bahan pangan secara massif dan langsung ke pasar, maka memang berpeluang memicu terjadinya inflasi. Atau kenaikan harga pangan itu sendiri.
Terlebih target pendirian SPPG di tahun 2026 ini akan ditingkatkan dengan kecepatan 2 hingga 3 kali dari realisasi tahun 2025 silam.
Untuk itu, kata dia, memang sebaiknya pemenuhan kebutuhan pangan MBG bisa melakukan beberapa kebijakan.
“Pertama, pemenuhan kebutuhan pokok sebaiknya dilakukan dengan pembelian yang terencana dan terkoordinasi. Hal ini bisa membuat produsen menyesuaikan produksi untuk memenuhi demand MBG. Seperti pembelian untuk pemenuhan kebutuhan protein dilakukan secara terkoordinir dari kantor pelayanan pemenuhan gizi (KPPG) per masing – masing wilayah,” jelas Gunawan, Senin (12/1/2026).
Kedua, lanjut dia, ada kontrak harga yang mengikat sehingga harga yang berlaku tidak berubah-ubah. Ketiga, tersedia fasilitas cold storage atau tempat pendingin yang bisa menyimpan kebutuhan pangan dalam periode waktu tertentu. Keempat, ada upaya untuk memperbaiki rantai pasok khususnya pada rantai pasok bahan baku di level produsen.
“Sebagai contoh, sejauh ini saya menemukan bahwa telah terjadi perang harga untuk komoditas gaplek yang sebelumnya jadi bahan baku utama pakan ternak sapi,” ujarnya.
Namun belakangan ini gaplek justru diminati oleh peternak ayam setelah terjadi kenaikan pada harga jagung. Disinilah ditemukan bahwa MBG berpotensi memicu kenaikan kebutuhan akan bahan baku produksi untuk komoditas tertentu.
“Karena menurut hemat saya, investasi pada sisi produsen pada dasarnya memiliki peluang untuk mampu dikembangkan oleh produsen itu sendiri. Namun untuk bahan produksinya ini yang ternyata memiliki celah besar yang harus ditutupi. Bisa saja produsen enggan menambah investasi agar produksinya alami peningkatan, dikarenakan kekuatiran akan kesulitan bahan baku produksinya itu sendiri,” pungkasnya. (*)