Pelayananpublik.id- Presiden Parbowo Subianto sempat mengatakan bahwa MBG (makan bergizi gratis) yang sebelumnya dominan menggunakan telur ayam dan daging ayam, sebaiknya diarahkan untuk menggunakan daging sapi.
Hal ini merupakan hal yang baik namun tetap harus waspada kepada dampaknya.
“Saya menilai arahan kebijakan tersebut agar terjadi diversifikasi sumber protein dan tidak bertumpu pada komoditas makanan yang itu-itu saja atau monoton. Karena salah satu dampak buruk menggunakan sumber protein yang monoton bisa memicu terjadinya kenaikan harga pada komoditas itu sendiri,” kata pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin, Selasa (6/1/2026).
Gunawan berpendapat langkah Presiden Prabowo itu bagus, namun memiliki dampak yang harus dipertimbangkan dengan matang.
“Daging sapi yang dihasilkan dari satu ekor sapi itu bobotnya memang bervariasi, namun saya menghitung bisa mencapai 46% hingga 53% dari total berat badan,” katanya.
Sementara itu sisanya ada kulit, tulang, usus, hati, jeroan, paru, lidah yang masih memiliki nilai ekonomis.
Sementara untuk kotoran dan darah umumnya akan menjadi limbah. Jika fokus konsumsi ada pada daging sapi, maka masalahnya adalah nilai ekonomis dari sapi lainnya menjadi terbuang. Peternak harus terbebani dengan HPP (harga pokok produksi) daging sapi yang lebih mahal.
Karena kulit, tulang, usus, jeroan hingga lidah tadi akan dibebankan harganya ke daging sapi. Sehingga harga daging sapi bisa menjadi lebih mahal.
“Memang ada skenario lainnya, yakni membiarkan bagian sapi yang memiliki nilai ekonomis tadi untuk dijual di pasar. Namun skenario seperti itu bisa memicu masalah baru, yakni limpahan pasokan produk sapi yang berpeluang membanjiri pasar,” katanya.
Berdasarkan analisisnya, untuk satu provinsi penerima manfaat MBG sekitar 5 jutaan orang saja, membutuhkan setidaknya sekitar 11 ribu ekor sapi setiap bulan. Dengan asumsi menu daging sapi satu kali dalam setiap pekannya. Tidak terbayang berapa banyak produk dari sapi selain daging yang akan membanjiri pasar.
“Hal tersebut bisa memicu penurunan harga dan membuat sumber protein masyarakat beralih ke produk sapi secara besar-besaran,” ujar Gunawan.
Skenario itu, kata dia, justru mungkin mengancam peternak ayam. Skenario yang masuk akal adalah dengan menjadikan nilai ekonomis daging sapi selain daging untuk dijadikan menu MBG.
“Ahli gizi dan Chef di setiap SPPG (satuan pelayanan pemenuhan gizi) menjadi kuncinya. Jadi kalau MBG bisa menghadirkan sumber protein dari sapi dan tidak hanya berfokus pada dagingnya saja,” katanya.
Maka akan berpeluang menciptakan kestabilan harga kebutuhan protein yang lebih terkendali serta menghindarkan dari kemungkinan lonjakan inflasi.
“Kehadiran MBG semestinya tidak dilihat hanya dari sisi manfaatnya saja. Namun kehadiran MBG juga berpotensi menciptakan ekosistem ekonomi baru yang berpotensi mengganggu keseimbangan pasar,” ujarnya. (*)