Harga Emas Naik Dipicu Oleh Tensi Geopolitik Yang Memanas, Rupiah Dibuka Turun

Pelayananpublik.id- Rilis data inflasi di tanah air akan menjadi data pembuka yang akan menjadi penggerak pasar di awal pekan, Senin (5/1/2026).

Pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan inflasi di Indonesia diproyeksikan akan berada dikisaran 2.6% hingga 2.8% pada bulan Desember 2025.

Selain data inflasi, kata dia, ada juga data neraca perdagangan berikut penjualan ritel yang turut menjadi penggerak pasar selanjutnya.

“Namun ada isu besar terkait dengan situasi geopolitik setelah penangkapan Presiden Venezuela yang bisa saja membuat pasar bergerak sangat liar,” katanya.

Gunawan menjelaskan harga minyak mentah dunia sempat alami kenaikan di kisaran $58 per barel dibandingkan posisi 2 Januari dikisaran $56 per barel, meskipun sejauh ini kembali alami penurunan di kisaran $57.4 per barel.

Ia menyebut kenaikan harga minyak mentah tersebut berpeluang memicu penguatan pada emiten energi di pasar saham.

“Bursa saham di Asia pada sesi perdagangan pagi ini mayoritas menguat dan berpeluang mendorong penguatan pada IHSG. Di sesi perdagangan pagi, IHSG ditransaksikan menguat di level 8.778. Penguatan IHSG sejauh ini belum diikuti dengan penguatan pada kinerja mata uang Rupiah. Dimana Rupiah terpantau bergerak melemah ke level 16.730 per US Dolar,” jelasnya.

Menurut dia, tensi geopolitik akan lebih banyak menjadi sentimen yang akan mempengaruhi kinerja pasar keuangan di awal pekan ini.

Selain di pasar keuangan, harga emas juga merespon panasnya tensi politik global dengan menguat ke level $4.400 per ons troy, atau sekitar 2.37 juta per gram.

“Tensi geopolitik yang memanas dalam sepekan kedepan diproyeksikan akan lebih banyak mempengaruhi kinerja pasar dibandingkan sejumlah rilis data ekonomi penting,” jelasnya. (*)