Pelayananpblik.id- Sebuah pondok Tahfidz di Deliserdang dirobohkan warga, Minggu (4/1/2026). Warga melakukan itu akibat emosi karena adanya dugaan pelecehan santriwati di dalam pondok tersebut.
Menurut warga setempat yang bernama Hendro, selama lima tahun dengan pengelolaan yang sangat tertutup dari masyarakat sekitar diduga kuat aksi pelecehan yang dilakukan pengasuhnya, AMR (31).
Hendro mengatakan pondok Tahfidz yang dikelola AMR sengaja menjaga jarak dengan lingkungan.
Di sekeliling bangunan bahkan dipagari seng tinggi, sehingga aktivitas di dalamnya sama sekali tidak terpantau.
“Enggak pernah bermasyarakat di sini pengasuhnya si AMR itu. Terus kalau puasa, warga mau mengasih makanan untuk berbuka anak-anak malah dilarangnya. Pokoknya tertutup lah,” ujarnya dikutip dari Tribun Medan, Senin (5/1/2026).
Pondok Tahfidz itu juga meluluskan beberapa alumni.
Sementara saat kejadian, siswa yang belajar di pondok tersebut tersisa sepuluh santriwati.
“Alumninya juga beberapa ada yang datang tadi malam. Mengaku pernah dipegang-pegang. Lain lagi wali santri yang sepuluh itu. Semua anaknya juga ngaku pernah dipegang dan dipeluk si AM. Makanya warga emosi mau menghakiminya,” lanjutnya.
Parahnya, kata Hendro, di dalam kamar santriwati bahkan ditemukan Camera Closed-Circuit Television (CCTV).
Diduga, kamera itu digunakan AM untuk memantau pergerakan santriwati saat berada di dalam kamar.
“Ada CCTV-nya. Untuk apa itu CCTV di dalam kamar santriwati kalau enggak untuk memantau,” bebernya. (*)