Pelayananpublik.id- Harga jagung pipilan saat ini ditransaksikan dalam rentang 7.200 hingga 7.500 per Kg.
Dari hasil observasi ke lapangan, sejumlah petani dan perusahaan pakan masih meragukan apakah harga jagung bisa turun dalam waktu dekat atau tidak.
Bahkan sebagian dari mereka meyakini harga cenderung mahal hingga bulan maret mendatang.
Pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan mahalnya harga jagung saat ini bukan hanya menyisakan kekhawatiran terjadinya kenaikan harga pada produk turunan seperti daging ayam dan telur ayam.
Namun mahalnya harga jagung juga bisa membuat perusahaan pakan ternak mencari sumber bahan pakan baru yang lebih bersahabat harganya. Dan sejauh ini perebutan untuk sumber pakan dari olahan singkong (gaplek) mencuat.
“Bahkan beberapa produsen daging sapi mulai mengeluhkan adanya permintaan gaplek untuk pakan ternak ayam, khususnya ayam broiler,” kata Gunawan.
Ia mengatakan peternak sapi mulai mengeluhkan dampak rentetan kenaikan harga jagung yang bisa mendorong kenaikan harga pokok produksi sapi potong nantinya. Kenaikan biaya produksi dikuatirkan akan mendorong kenaikan harga jual daging sapi.
Ia menjelaskan meskipun konsumsi daging sapi belakangan alami kenaikan seiring dengan program MBG (makan bergizi gratis). Namun peternak tetap saja mengkuatirkan dua hal utama yang bisa menekan penjualan.
Pertama konsumsi daging sapi masyarakat diluar MBG cenderung alami penurunan. Dan kedua kekuatiran akan pengalihan sumber bahan pangan protein subtitusi yang bisa saja dilakukan oleh dapur MBG.
“Saya menilai jika pemerintah tidak melakukan impor jagung, saya pikir harga jagung masih sulit untuk ditekan. Program pemerintah yang tengah berupaya melakukan swasembada produk pertanian akan terusik dengan kenaikan harga jagung saat ini. Ini menunjukan bahwa eksekusi program MBG belum sepenuhnya mampu diantisipasi dengan menghasilkan sumber bahan lokal dengan harga yang stabil,” ujarnya. (*)