Pelayananpublik.id- Harga cabai merah pada bulan Oktober 2025 masih menjadi penyumbang inflasi.
“Saya mencatat harga cabai merah di bulan oktober ini rata-rata masih lebih tinggi 8.75% dibandingkan dengan rata-rata harga di bulan sebelumnya (September),” ujar Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, Selasa (28/10/2025).
Gunawan menjelaskan harga cabai merah bergerak sangat liar selama bulan oktober ini. Dimana terjadi gap atau selisih yang bisa mencapai 15 ribu per Kg, antara harga cabai di satu pasar tradisional, dengan pasar tradisional lainnya.
“Bahkan, di satu pasar tradisional saya kerap menemukan selisih harga yang signifikan bahkan mencapai 10 ribu untuk setiap kilonya. Sehingga memungkinkan hasil perhitungan inflasi akan sangat jauh berbeda, karena proses pencacahan hasilnya bisa sangat beragam,” katanya.
Selain cabai merah, komoditas emas juga diproyeksikan menyumbang inflasi di bulan Oktober ini. Seiring dengan kenaikan harga emas yang capai rekor tertinggi sepanjang sejarah di bulan Oktober.
“Sementara itu, komoditas pangan lainnya justru berpeluang menyumbang deflasi. Beberapa komoditas pangan yang menyumbang deflasi diantaranya adalah daging ayam, bawang merah, cabai hijjau, dan cabai rawit,” terang Gunawan.
Ia juga mengatakan harga daging ayam rata-rata turun 5% di bulan oktober ini, dan penurunan yang paling besar terjadi pada harga bawang merah sebesar 11.6%.
Selanjutnya disusul dengan penurunan harga cabai rawit sekitar 27%. Selain cabai rawit, harga cabai hijau juga mengalami penurunan di bulan oktober ini. Sehingga setidaknya 4 komoditas pangan utama yang mengalami penurunan.
Yang berpeluang mendorong terjadinya deflasi di Sumut minimal 0.06% secara bulanan atau month to month. Dan sumbangsih deflasi di Sumut pada bulan Oktober didominasi oleh penurunan harga komoditas pangan hortikultura.
“Jika berkaca pada tren penurunan harga komoditas cabai merah yang diproyeksikan akan berada dalam rentang 40 hingga 60 ribu per Kg di bulan depan. Maka besar kemungkinan deflasi akan berlanjut pada bulan November mendatang. Dengan potensi penurunan yang lebih besar dibandingkan dengan kemungkinan realisasi deflasi di bulan ini,” tutup Gunawan. (*)