IHSG dan Emas Alami Pelemahan, Rupiah Menguat Terhadap US Dolar di Akhir Pekan

Pelayananpublik.id- Setelah sempat bertahan di zona hijau selama sesi perdagangan berlangsung.

“Kinerja IHSG pada perdagangan akhir pekan ini, ditutup turun 0.03% di level 8.271,722. IHSG ditutup di level terendahnya, sementara IHSG sempat berada di level tertingginya 8.351,” ujar pengamat ekonomi asal Sumut, Gunawan Benjamin, Minggu (26/10/2025).

Ia menerangkan sejumlah saham yang mengalami koreksi dan menekan kinerja IHSG pada perdagangan hari ini diantaranya adalah BBCA, TLKM, ANTM, ADRO, PGAS hingga UNTR.

Sesaat sebelum IHSG ditutup, bursa saham di benua eropa terpantau banyak yang diperdagangkan di zona merah.

“Pelaku pasar saat ini menanti sejumlah agenda penting yang akan dirilis AS. Namun pasar saham di Asia termasuk IHSG akan meresponnya diawal pekan mendatang,” jelasnya.

Sementara itu mata uang Rupiah ditutup menguat di level 16.590 per US Dolar. Rupiah menguat ditengah membaiknya kinerja mata uang US Dolar terhadap sejumlah mata uang di Asia. Pada akhir pekan ini US Dolar terpantau menguat terhadap Bath Thailand, Rupe India, Dolar Singapura hingga Yuan China.

Pada dasarnya baik IHSG dan Rupiah pada akhir pekan ini ditransaksikan dalam rentang yang sangat terbatas. Pasar terlihart lebih mengambil posisi wait and see jelang sentimen besar di pekan depan. Disisi lain harga emas dunia kembali melemah di level $4.055 per ons troy. Data inflasi AS yang diproyeksikan akan membaik menjadi salah satu pemberat bagi harga emas di akhir pekan.

Sejauh ini, lanjut Gunawan, inflasi AS diproyeksikan naik menjadi 3.1% secara tahunan pada bulan September, atau lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi inflasi dibulan sebelumnya sebeesar 2.9%. Jika data inflasi AS nantinya akan lebih rendah dari ekspektasi, emas berpeluang menguat. Dan dalam tren naik jika ada sinyal pemangkasan bunga acuan, memburuknya tensi geopolitik serta kesepakatan dagang AS – China.

“Pasar akan mencermati sejumlah agenda besar di pekan depan, seraya memantau situasi perang antara Rusia dan Ukraina. Karena momen penguatan harga emas masih berpeluang terjadi ditengah ketidakpastian ekonomi saat ini,” tutupnya.