Jurnalis Warga, Pendamai Konflik Satwa dengan Manusia di Kawasan Penyangga TNGL

Pelayananpublik.id- Seperti yang dilaporkan berbagai media, tingginya angka konflik manusia dengan satwa di sekitaran kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), seperti yang dialami Edy Simel Sembiring, petani Desa Mekar Makmur, Langkat, jadi korban terbaru konflik gajah dan manusia, Sabtu (22/3/2025).

Kejadian tersebut membuat sebagian tubuhnya luka-luka, dan harus menerima perawatan lebih lanjut di Rumah Sakit di Kota Stabat.

Empat hari berselang, M Ikhwan Sembiring, buruh sawit yang sedang memanen tandan buah segar (TBS), jadi korban di Barak Hitam yang juga warga Desa Mekar Makmur ini luka di bagian paha, kena cakaran harimau.

Sepanjang tahun 2020 – 2022, harimau Sumatera beberapa kali terlihat di luar kawasan hutan. Ada yang dalam kondisi sakit, ada juga  luka di bagian kaki, kena jerat. Begitu juga, puluhan kali dalam tahun ini, koloni gajah melintas dan merusak tanaman di pemukiman warga.

Berdasarkan ketersediaan data yang dapat diakses, pada tahun 2021, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser mencatat setidaknya ada 136 kasus konflik di sekitar kawasan tersebut.

Konflik manusia dengan satwa ini didominasi oleh harimau Sumatera, diikuti oleh gajah Sumatera dan orang utan Sumatera.

Penyebabnya beragam, termasuk berkurangnya mangsa alami harimau, perambahan hutan untuk perkebunan, dan pembiaran ternak lepas di kawasan hutan.

Karena masalah ini terus membesar, BITRA Indonesia bersama Pemerintahan Desa Mekar Makmur, Sei Lepan, Langkat menyelenggarakan pelatihan Jurnalis Warga pada tanggal 28 – 29 Juli 2025, bertempat di Aula Kantor desa Mekar Makmur yang diikuti oleh 30 orang peserta yang terdiri dari tokoh masyarakat, Kepala Dusun, BPD dan perwakilan remaja putra putri.

“Konflik manusia dan satwa liar adalah masalah kompleks yang membutuhkan solusi berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak. Upaya mitigasi konflik yang melibatkan masyarakat, pemerintah, dan pihak terkait lainnya sangat penting untuk menjaga kelestarian satwa liar dan mengurangi dampak negatif konflik pada manusia,” ujar Rusdiana Adi, Direktur Yayasan BITRA Indonesia, di Medan 31 Juli 2025.

“Dengan tulisan yang berimbang, menyejukkan dan mengandung nilai edukasi konservasi alam sekitar, diharapkan kader-kader Jurnalis Warga Desa (JWD) desa Mekar Makmur dapat menjadi juru damai konflik manusia dan satwa yang sangar kerab terjadi di desanya.” Demikian ditambahkan Erika Rosmawati Situmorang sebagai Manajer Program Advokasi BITRA Indonesia.

Pelatihan diselenggarakan dengan tujuan memampukan peserta menjadi JWD yang dapat menginformasikan berbagai peristiwa, berbagai kegiatan positif dan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia di desa mereka dan alam sekitarnya dengan memahami dan mematuhi etika penulisan, prinsip keberimbangan dan altruisme (kebenaran dan keadilan) dan mencari solusi dari peristiwa-peristiwa yang dialami desa dalam bentuk berita dan tulisan.

“Pelatihan menargetkan terbangunnya kesadaran peserta dari kelompok dampingan menuju pengaderan sebagai JWD untuk berpartisipasi konten berita dan tulisan pada sistem informasi desa (SID) atau website desa, radio komunitas dan media sosial.” Ujar Juhendri Chaniago, Salah satu fasilitator pelatihan tersebut. (*)