Conzep Tan, Resto dan Cafe Yang Miliki Mushola Unik Gaya Tionghoa-Arab

Pelayananpublik.id- Biasanya restoran hanya sebagai tempat menikmati masakan khas, namun Haji Jimmi Tan salah seorang warga muslim Tionghoa Medan, melakukan manuver apik dalam usaha resto miliknya yakni Conzep’Tan Resto.

Disana, pengunjung tidak hanya menikmati makanan halal, tapi juga one stop service.

Beralamat di Komplek J.City Ruko E.15/16 Jalan Karya Wisata Medan Johor, restoran yang juga menyajikan makanan China (Chinese Food), makanan Eropa (Western food) dan tradisional Indonesia itu menawarkan sejumlah fasilitas lain seperti Cafe, Karaoke, Ruang rapat (meeting room), Roof top dan mushola cantik berasitektur Arab Tionghoa di atap bangunan.

Berbincang baru-baru ini, Haji Jimmy, mengatakan, restoran yang buka awal Oktober 2018 lalu itu menyediakan masakan (cuisine) halal lebih sehat dan segar seperti ikan dan lainnya.

“Selain menu main course (santapan utama), kita juga sediakan menu-menu kafe di kafe kita di lantai 2 yang juga ada live music, ditambah balkon dengan lantai kaca. Lantai 3 ada karaoke dan meeting room dan lantai 4 ada mushola dan roof top. Makanannya fresh,” ucapnya.

Banyaknya kafe di kawasan sekitar dan minimnya restoran menurutnya menjadi peluang yang cukup menjanjikan untuk membuka usaha itu. Belum lagi, kawasan Medan Johor memang cukup ramai.

“Di J.City lebih cenderung ke kafe. Kalau di sini, keluarga dan rekan yang betul-betul makanan. Apa lagi resto belum ada di sini. Melihat kawasan di Johor ini cukup banyak masyarakatnya, dan untuk cari makan mereka cenderung lebih ke kota. Dengan dibukanya pasar jajanan di daerah Johor ini kita manfaatkan ruko yang ada buka resto,” jelasnya lagi.

Menu Ikan, Steamboat, Nasi ayam Koko, Seafood campur dan lain-lain menjadi andalan. Cukup banyak menu makanan dan minuman yang tersedia yang semuanya dijamin lezat. Chef dan koki berpengalaman siap melayani pesanan konsumen dengan harga relatif terjangkau, mulai Rp 20 ribu hingga Rp 280 ribu (untuk lima orang).

Soal penamaan restoran, menurutnya dilakukan lantaran dia bermarga Tan.

“Untuk penamaan saya pikir mau buat merek apa. Banyak juga yang tanya mau buat merek apa. Bagi saya, nama harus tahu apa artinya, nama yang tren saja tidak akan bermanfaat. Makanya jadinya itu, yang artinya konsep marga Tan, konsep marga saya,” kata pria yang memeluk Islam tahun 1999 silam tersebut.

Bernuansa etnis Tionghoa dengan campuran Arab di resto tersebut, ada 12 meja yang masing-masingnya diperuntukkan bagi empat orang. Jika yang ingin duduk di sofa, atau yang ingin lebih santai, tiga jenis meja tersedia di tempat itu.

Di lantai dua, lanjutnya, ada sekitar 20 meja dan balkon bagi yang ingin mendapatkan suasana berbeda. Sementara ruang rapat di lantai 3 diperuntukkan bagi 20 hingga 25 orang dengan ukuran ruangan 4×9 meter. Untuk ruangan karaoke, ada yang untuk maksimal 15 orang dengan luas ruangan 4×7 meter dan untuk 7 orang. Di lantai atap, sebuah Mushola cantik berarsitektur tionghoa-arab juga tersedia.

Ia menceritakan tepat tahun 2018 Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin (saat itu masih Cawapres) datang secara langsung dan menandatangani prasasti Mushola Al Mualaf Tan.

Menariknya, untuk kubah musola Al Muallaf Tan, mirip dengan masjid Cheng Ho di Surabaya, dengan atap Pagoda yang di atasnya terdapat satu kubah dan dikelilingi empat kubah lainnya. Musola tersebut bisa menampung sekitar 15 jamaah.

Sementara untuk tempat wudhu, antara laki-laki dan perempuan dibuat terpisah. Beberapa ustadz dan ulama lainnya juga pernah mengunjungi Conzeptan Resto ini, seperti Ustadz Abdul Somad, Habib Achmad Jamal bin Thoha Baagil, dan ulama lainnya.

“Saya ingin menandakan kita ini sebagai muslim yang baik, akan membuat tempat yang baik. Dalam usaha yang saya jalani, saya lebih mengutamakan ibadah. Jadi sebelum buat itu kita pikirkan dulu. Karena untuk hidup lebih baik adalah yang hidup dengan agama dan ibadah. Menunjukkan pula bahwa sambil beraktivitas apapun, kita juga harus taat ibadah. Bukan saja hidup dunia yang kita jalani, tapi ada akhirat yang akan kita hadapi,” ucapnya.

Untuk soal keagamaan, Haji Jimmy cukup konsisten. Bulan Ramadhan ini, hampir setiap hari berikan sedekah ke masjid dan warga sekitar Resto. Disaat masuk waktu Adzan Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya, karyawan bergantian Adzan di tengah-tengah Cafe lantai 2.

Kendati buka setiap hari, di waktu Jumat, karyawan pria yang ada diwajibkan salat Jumat di masjid. Jika tidak, akan ada peringatan. Jika ada pengunjung yang datang di jam sholat Jumat, pelayan akan memberikan pengertian bahwa petugas dapur masih beribadah. Biasanya kata Haji Jimmy, konsumen mau menunggu.

Di dinding bangunan restonya, pria berambut gondrong dan berjanggut panjang itu juga menuliskan banyak kata-kata bermuatan pesan yang intinya agar dalam kehidupan, harus selaras antara aktivitas dunia dan akhirat. Selain itu, sejumlah mural cantik juga cocok dijadikan lokasi foto yang Instagrammable. (*)