Fungisida dan Pestisida untuk Kelapa Sawit

Pelayananpublik.id- Seperti halnya tanaman lain, tanaman sawit juga tentu mempunyai hama entah itu gulma hingga jamur dan bakteri.

Hama itu memberikan efek buruk kepada tanaman sawit baik batang maupun daunnya. Akibatnya, akan terjadi penurunan kualitas dan kuantitas buah sawit yang akan dihasilkan.

Dari itu, jika tanaman sawit terkena hama, maka harus segera dikendalikan sebelum menyebar ke seluruh bagian tanaman dan membuatnya mati.

Biasanya petani menggunakan pestisida dan fungisida dalam mengendalikan hama di perkebunan sawit.

Pestisida adalah zat yang membunuh serangga maupun rumput. Sedangkan fungisida digunakan untuk membasmi jamur yang menyerang tanaman.

Fungisida

Fungisida adalah jenis pestisida yang secara khusus dibuat dan digunakan untuk mengendalikan (membunuh, menghambat atau mencegah) jamur atau cendawan patogen penyebab penyakit.

Fungisida bisa berbentuk tepung, cair, gas dan butiran. Fungisida yang berbentuk tepung dan cair adalah yang paling banyak digunakan.

Contoh hama yang sering ditemukan di tanaman kelapa sawit adalah Curvularia sp.

Cara menangani jamur ini adalah dengan pemakaian fungisida golongan EBDC. Namun jika digunakan dalam periode yang lama akan menyebabkan patogen Curvularia sp. Resisten dan terus menyerang bibit kelapa sawit.

Berdasarkan hasil pengujian dan pengalaman perkebunan yang telah menggunakan fungisida yang bernama kuproxat 345 SC, pathogen Curvularia sp.,dapat dikendalikan dengan 2 ml Kuproxat 345 SC per liter air.

Gejala yang tampak jika tanaman sawot terserang Curvularia sp. adalah bercak daun.

Patogen itu awalnya menyerang daun pupus yang belum membuka atau dua daun termuda yang sudah membuka. Tampak bercak bulat kecil, warna kuning tembus cahaya. Bercak membesar, warna pusat bercak menjadi coklat muda dan tampak mengendap (melekuk). Bercak dikelilingi oleh halo yang berwarna jingga kekuningan. Penyakit ini mampu menghambat pertumbuhan bibit.

Selama ini planters secara rutin menggunakan fungisida golongan EBDC (seperti mancozeb), namun tidak efektif dan tidak tuntas. Fenomena ini menunjukkan bahwa pathogen mulai tahan terhadap fungisida golongan EBDC, dan perlu alternative fungisida yang mampu mengendalikan pathogen Curvularia sp.
Kuproxat 345 SC merupakan fungisida dan bakterisida non sistemik yang berspektrum luas.

Beberapa PBS (Perkebunan Besar Swasta) yang berhasil mengendalikan pathogen Curvularia sp. , menceritakan bahwa pemilihan fungisida yang tepat merupakan factor kunci.

Sebelumnya PBS menggunakan fungisida golongan EBDC (Mancozeb) dan dirasakan tidak efektif. Kemudian beralih menggunakan fungisida kuproxat 345 SC, konsentrasi 2 ml/l air, di semprot setiap 2 minggu sekali dengan menggunakan pelarut air asam, hasilnya pathogen Curvularia sp. , dapat dikendalikan, bibit sawit tampak sehat dan berkembang lebih baik.

Pestisida

Berdasarkan asal katanya pestisida berasal dari bahasa inggris yaitu pest berarti hama dan cida berarti pembunuh.

Jadi yang dimaksud dengan hama bagi petani sangat luas yaitu tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus,nematoda (cacing yang merusak akar), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan.

Adapun hama yang biasa menyerang tanaman kelapa sawit dan dikendalikan pestisida adalah sebagai berikut:

– Hama ulat. Biasanya yang menyerang sawit adalah ulat api. Ulat api sendiri banyak terdapat pada daun tumbuhan ini. Dalam intensitas rendah, penanganannya cukup dengan diambil secara manual (handpicking).

Namun pada tingkat lanjut, jika penyebaran hama meluas, pengendalian dilakukan dengan penyemprotan pestisida.

– Hama kumbang. Selain ulat, ada pula kumbang yang sering merusak tanaman sawit. Kumbang tanduk memiliki siklus hidup yang relatif lama sehingga kemungkinan bertambahnya populasi kumbang ini berakibat pada menurunnya produktivitas sawit. Sama seperti ulat, kumbang juga dikendalikan dengan pestisida jenis insektisida.

– Hama tikus. Adanya tikus disebabkan salah satunya oleh sistem sanitasi yang tidak baik pada perkebunan. Contohnya yang dilakukan PT Propadu Konair Tarahubun (Plantation Key Technology/PKT), pada survei lapangan dapat dibuat sanitasi yang baik dengan menemukan sarang tempat persembunyian dan membersihkankannya dari tumpukan sampah yang ada. Di sisi lain, penyemprotan pestisida dilakukan dengan menyesuaikan luas lahan serta intensitas hama itu sendiri.

– Busuk Pangkal Batang. Penyakit ini disebabkan jamur Ganoderma boninense. Kurangnya pengetahuan petani tentang penyakit ini menyebabkan kerugian dengan jumlah yang tidak sedikit. Hal ini bisa ditangani dengan memberikan bimbingan pada petani dimulai dari proses pemupukan. Pemilihan pupuk tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Sistem yang diterapkan oleh PKT sendiri selalu mengedepankan kebutuhan dari setiap tanaman. Dengan mengetahui kondisi pH tanah dan akar tanaman, aplikasi pupuk untuk tingkat lanjut bisa dilaksanakan

– Daun menguning. Ketika daun sawit mulai menguning, itu tandanya virus yang bernama potyvirus ini mulai menyerang. Jika tidak ditangani dengan baik, lama-kelamaan daun akan layu dan kemungkinan panen tidak maksimal.

– Cincin Merah. Penyakit ini merupakan ancaman paling berbahaya bagi sawit. Gejalanya bisa dilihat dari daun yang tumbuh mengecil, juga terdapat bercak-bercak kuning sampai jingga di petiol dan daun tombak.

Nah, pengendaliannya dengan insektisida untuk membunuh kumbang tanduk. Karena Bursaphelenchus cocophilus ini ternyata hewan perantara penularan nematoda, penyebab penyakit cincin merah.

Perlu diketahui, meskipun terdapat dampak yang tidak baik bagi manusia dan lingkungan, pestisida, termasuk herbisida, seringkali digunakan di perkebunan-perkebunan kelapa sawit. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *